oleh

Kariyono, Warga Sumberejo Ini Mencari Keadilan Atas Nasibnya

-HUKUM-183 views

BOJONEGORO. Netpitu.com – Jatuh bangun dalam usaha adalah hal biasa. Tapi jika ketika bangkrut dan alami penyitaan asset, tentunya akan menambah derita. Bak pepatah “Sudah jatuh ketimpa”, sudah bangkrut assetnya disita pula.

Setidaknya inilah nasib yang sekarang ini tengah dialami Pasutri dari Desa Pejambon, Kecamatan Sumberejo, Bojonegoro, Kariyono (57) dan isterinya Siti Khotijah (52).

Diceritakan Pasutri ini, untuk mengembangkan usahanya di bidang perberasan mereka meminjam kredit perbankan di bank Mayapada, Babat, Lamongan, Rp. 150 juta, dengan jaminan sertifikat 3 bidang tanah.

Tapi sayang harapannya untuk mendapatkan keuntungan dari usaha jual beli berasnya gagal. Modalpun semakin susut dan habis pada bulan ke 7 masa angsuran kreditnya. Tak pelak, pembayaran angsuran kreditnyapun terseok-seok.

Dari masa angsuran kredit 3 tahun (36 kali angsuran), Kariynto hanya mampu membayar 13 kali angsuran yang per bulannya dipatok Rp. 5.5 juta. Setelah itu Kariyoto, tak lagi bisa membayar angsuran lantaran tak lagi punya pendapatan dari usahanya yang telah mengalami kebangkrutan sejak 2016.

Baca Juga :  Awas ! Satpol PP Adakan Razia Masker Pengunjung Supermarket

Pihak perbankan pun akhirnya memilih menyelamatkan tagihan kreditnya dengan cara melelang jaminan 3 sertifikat milik Kariyono yang dijadikan jaminan kredit.

Sebenatnya, Kariyono tidak berniat melepas 3 bidang asset tanahnya, namun apa lacur nampaknya pihak bank juga tidak lagi mau berkompromi. 3 bidang asset tanah milik Kariyoto pun dilelang.

Banner IDwebhost

Kebetulan pembeli tanah Kariyoto ini adalah tetangga dekat rumahnya, yang bernama Sumari. Ia adalah anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro, dari PPP.

Menurut Kariyono, 3 bidang tanahnya yang dilelang hanya dijual sekitar Rp. 127 juta ditambah biaya macam-macam, total pembayarannya Rp 185 juta. Padahal, lanjut Kariyoto, taksiran harga jual 3 bidang tanahnya tersebut mencapai kisaran harga Rp. 900 juta.

Yang disayangkan oleh Kariyono, ia tidak pernah diajak bicara oleh pihak perbankan jika jaminan asset tanahnya tersebut mau dilelang. Namun demikian Siti Khotijah, isteri Kariyono, tidak menampik jika pihak perbankan juga pernah mengirimkan surat ke pihaknya.

Baca Juga :  Ombudsman Beri Waktu Tiga Bulan Tim Izin Pasar Ngampel Selesaikan Tugas

“Tapi bukan surat soal lelang,” kata Siti Khotijah.

Dengan maksud ingin menyelematkan tanahnya, Kariyono bersama isterinya mendarangi rumah Sumari, dan menyatakan niatnya untuk mengganti uang lelang yang telah dibayarkan Sumari. Tapi sayang, niat Kariyono ini ditolak mentah-mentah oleh Sumari.

Ajukan Gugatan.

Buntu pikiran dan bingung menghadapi persoalan asset tanahnya yang hilang, tiba-tiba ada seorang kenalan Kariyono yang menawarkan jasa pengacara untuk melakukan gugatannya ke Pengadilan negeri Bojonegoro.

“Saya dikenalkan dengan Sugito, pengacara asal Lamongan,” tutur Kariyono, kepada netpitu.com, Minggu (31/05/2020). Melalui kuasa hukumnya, Kariyono, menggugat bank Mayapada, Babat – Lamongan, yang telah melakukan lelang jaminan tanpa koordinasi dengan pihak penggugat.

Karena besarnya keinginan untuk mendapatkan hak atas tanahnya kembali, Kariyono mengaku telah mengeluarkan uang Rp. 100 juta, sesuai permintaan pengacara. Dikatakan Kariyono, uang itu untuk biaya gugatan.

Sidang gugatan di Pengadilan negeri pun telah berlangsung beberapa kali, dengan agenda sidang yang terakhir mediasi. Hasil mediasi buntu dan tidak ada titik temu.

Baca Juga :  Urung Laporkan Kasus Penyimpangan APBDes, 2 Anggota LSM Malah Peras Kades

Bahkan sebaliknya, kini Sumari, anggota DPRD Bojonegoro yang membeli tanah Kariyono, melakukan serangan balik dengan mengajukan eksekusi sita tanah pada Pengadilan negeri Bojonegoro.

“Kabarnya sih tanggal 8 Juni nanti akan ada eksekusi,” terang Kariyono, dengan suara lemah.

“Saya akan melakukan perlawanan eksekusi, karena sidang gugatan saya di PN Bojonegoro belum ada putusan hukum yang berkekuatan tetap,” lanjut Kariyono.

Pria yang kini hanya bisa bekerja di sawah ini berharap, supaya Sumari mau membuka hatinya dan memberikan kesempatan pada Kariyono untuk bisa membeli 3 bidang tanahnya yang sertifikatnya sekarang ini sudah berganti nama atas nama Sumari.

“Niat saya membeli 3 bidang tanah itu dan saya bersedia memberikan keuntungan pada Sumari,” tutur Kariyono.

(pur)

Bagikan :