oleh

Ketika Kepergian Bupati Ana Ke Inggris Jadi Buah Bibir Rakyat

-NETSIANA-254 views

Netpitu.com – Dua hari ini Bojonegoro diguncang berita kepergian bupati Anna Muawanah dan suaminya, Ali Dupa, ke London ( Inggris ). Kontan saja, warga Bojonegoro yang sebelumnya tenang, ayem tentrem itu, soyak grememeng membicarakan kepergian bupatinya. Tak pelak pula, sejumlah anggota DPRD Bojonegoropun juga bersikap.

Memang sah dan tidak melanggar aturan jika bupati pergi ke luar negeri mengajak keluarganya. Namun yang menjadi pertanyaan dasar warga adalah untuk kepentingan apa bupati Ana pergi ke Inggris dan siapa yang mengundang.

Dalam sebuah rilis berita yang dikirim oleh Humas dan Protokol Pemkab memberikan penjelasan, kepergian bupati Bojonegoro tersebut dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bojonegoro, khususnya di sektor investasi pariwisata dan migas.

Bupati tidak sendirian pergi ke London (11/6/2019), tapi mengajak Pj. Sekda, Yayan Rahman, Kepala Bappenda, Hery Soedjarwo, dan wakil ketua Dewan Riset Daerah ( Bojonegoro ) Ali Dupa, yang juga suami bupati Ana.

Baca Juga :  PDIP Harus Jadi Penerang dan Pelopor di Tengah Kaum Marhaen

Menurut Kabag Humas dan Protokol Pemkab Bojonegoro yang dikonfirmasi oleh media, keberangkatan Bupati Ana dan rombongannya ini diprakarsai oleh Young Indonesian Professionals Association (YIPA), dengan tema kegiatan “Investment Promotion in Oil & Gas oppurtunities within Bojonegoro dan Tourism Promotion – Be in Bojonegoro”.

Hehehe, kok saya kepengin ketawa membaca tujuan rombongan bupati ke Inggris ini. Bagaimana tidak ?, dikatakan ia akan mempromosikan investasi bisnis di bidang migas dan pariwisata yang ada di Bojonegoro. Namun dari sisi pejabat yang diajak tidaklah tepat.

Seharusnya bupati mengajak kepala SKPD tehnis terkait, seperti Dinas Pariwisata dan Badan Perijinan dan Penanaman modal agar lebih paham dan detail dalam menyampaikan presentasi kepada investor Inggris.

Banner IDwebhost

Bukannya Pj. Sekda yang hanya memiliki fungsi administratif pemerintahan dan Bappenda yang hanya menjadi pencatat dan pengumpul uang lifting migas.

Jadi wajar saja jika warga Bojonegoro mempertanyakan urgensi kepergian bupati Ana dan rombongan ini ke London, Inggris. Karena alasannya tidak tepat. Bahkan sebagian wargapun berpendapat ” ini kerja apa klenceran,”.

Baca Juga :  GBHN sebagai Konsensus Bersama

Karena secara kebetulan Pj. Sekda Yayan Rahman adalah pengantin yang beru saja melanngsungkan pernikahannya beverapa minggu lalu, dan tebtunya masih dalam masa “honeymoon.

Yang disesalkan oleh warga masyarakat Bojonegoro, kenapa bupati dan Pj. Sekda yang nota bene menjadi motor pergerakan pemerintahan di Kabupaten Bojonegoro pergi secara bersama-sama.

Bukankah keberadaan mereka di kantor lebih diperlukan untuk memberikan pelayanan pembangunan kepada masyarakat. Dan memastikan penyelenggaraan pemerintahan berjalan baik serta pelayanan publik berjalan lancar tanpa ada hambatan.

Disamping itu, yang dibutuhkan oleh warga masyarakat Bojonegoro sekarang ini adalah percepatan jalannya roda pembangunan di Bojonegoro sebagaimana telah di rencanakan dalam anggaran belanja daerah. Bukan yang aneh-aneh.

Karena diakui atau tidak, selama sembilan bulan masa pemerintahan bupati Anna Muawanah dan Wakil Bupati Budi Irawanto, perkembangan pembangunan di Bojonegoro menjadi mandeg. Reformasi birokrasipun berlangsung tidak jelas.

Baca Juga :  Soal CSR Pertamina EP Sukowati Field Minta Pemdes Ngampel Ajukan Proposal

Bahkan banyak pula kegiatan yang sudah dianggarkan dalam APBD 2019 ini yang tidak terlaksana tanpa ada alasan pasti dari bupati.

Dari 17 program unggulan visi misi bupati yang pernah didengung-dengungkan untuk kesejahteraan rakyat Bojonegoro, hingga sekarangpun belum terealisasi.

Karenanya, ketimbang berpergian ke luar negeri, lebih baik bekerja keras mendorong realisasi janji kampanye.

Sebab jika tidak, maka jangan salahkan rakyat bila suatu saat nanti mereka (rakyat) datang berbondong-bondong ke pendopo bupati untuk menuntut janji kampanye yang telah diungkapkan.

Ditulis oleh : Edy Kuntjoro
Koordinator Front Rakyat Antikorupsi ( FRAKSI )

Bagikan :