oleh

Warga Ngampel Tuntut Ganti Rugi dan Kompensasi Bau Busuk Pengeboran Sumur Minyak Pertamina

-PERISTIWA-362 views

BOJONEGORO. Netpitu.com – Bau busuk tak sedap dampak pengeboran sumur baru PAD-A Sukowati, Pertamina EPC 4 Jatim, dikeluhkan warga RT 01, RW 01, Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Bojonegoro,

Bau busuk yang menyengat hidung tersebut dipahami warga sebagai gas yang dibuang oleh operator pengebiran sumur Migas milik Pertaminan.

“Gas H2S itu sudah lama tercium oleh warga. Akibatnya banyak warga warga sesak nafas akibat menghirup udara yang tercemar H2S tersebut,” ujar warga yang tinggal di dekat lokasi pengeboran sumur minyak.

Melalui Pemetibtah Desa Ngampel warga telah meminta pertanggungjawaban atas keluarnya gas H2S tersebut. Namun pihak Pertamina tidak memberikan tanggapan yang memadai. Bahkan lewat surat yang dikirim ke Kepala Desa Ngampel, disebutkan bau busuk tersebut bukan H2S yang beracun.

Baca Juga :  Hadapi Kemarau, BPBD Bojonegoro Siapkan 1000 Tangki Air Bersih

Jawaban Pertamina, seperti dikutip Kades Ngampel, Purwanto, S.Sos, dari surat Pertaminan, indikasi bau busuk yang terhirup warga tersebut bukan H2S, karena dari 10 sensor otomatis yang dipasang di sekitar Pad A, tidak mendeteksi adanya H2S.

Menurut Kades Ngampel, Purwanto, terlepas bau tak sedap itu H2S atau tidak, sudah menjafi kewajiban pihak Pertamina untuk memberika jaminan kenyamanan dan keselamatan warga yang tinggal di sekitar lokasi pengeboran sumur.

“Mereka ( warga ) sakit akubat menghirup udara yang telah tercemar tersebut. Ada yang pusing sakit kepala dan jyga sesak nafas,” jelas Purwanto, kepada netpitu.com, Senin, (14/09/2020).

Baca Juga :  Hadapi Kemarau, BPBD Bojonegoro Siapkan 1000 Tangki Air Bersih

Lebih lanjut dikatakan Kades Ngampel, warga terdampak bau busuk pengeboran sumur minyak Pertamina, tidak mau menerima alasan apapun dari Pertamina yang dalam surat balasannya menolak tuntutan ganti rugi dan kompensasi.

Warga tetap meminta tuntutan ganti rugi dan kompensasi atas bau busuk yang ditimbulkan oleh pengeboran sumur minyak pada Pertamina.

Jika Pertamina tetap ngotot tidak mau berikan ganti rugi dan kompensasi, warga korban bau busuk akan terus memperjuangkan tuntutan warga hingga Pertamina merespon tuntutan warga terdampak.

Hal lain yang sangat disayangkan, karena adanya tuntutan tersebut ketua RT 01, mendapat tekanan dari pihak management Pertamina EP 4 Jatim, melalu Subkonnya, untuk memilih tetap bekerja di proyek pengeboran minyak atau mundur dari pekerjaannya di proyek pengeboran. Jika terus melakukan tuntutan ganti rugi warga.

Baca Juga :  Hadapi Kemarau, BPBD Bojonegoro Siapkan 1000 Tangki Air Bersih

Lantaran tekan tersebut akhirnya ketua RT 01, RW 01, Desa Ngampel, A. Hamid, memilih mengundurkan diri dari jabatan ketua RT 01.

Surat pengunduran diri A. Hamid, menurut Kades Ngampel, telah disampaikan ke pihak Desa.

Soal nanti pengunduran diri itu disetujui atau tidak keputusannya nanti.

“Tunggu satu Minggu,” tegas Kades Ngampel, Purwanto. S.Sos.

(ro)

Bagikan :