oleh

Tetapkan Status KLB COVID-19 Pemkab Bojonegoro Liburkan Sekolah

BOJONEGORO. Netpitu.com – Pemkab Bojonegoro menetapkan status Kejadian Luar Biasa ( KLB ) Non Alam dalam rangka pencegahan penyebaran virus corona COVID-19, dengan meliburkan siswa dari kewajiban belajar di sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA.

Dalam intruksi bupati nomer 2 tahun 2020, penetapan hari libur dimulai sejak Senin (16/03/2020) sampai dengan Sabtu (21/03/2020).

Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah mengatakan tetap harus menggunakan protokol dari pemerintah pusat tentang pencegahan dan penanganan Covid-19.

Pada sosialisasi ini ( Minggu, 15/03/2020 ), terdapat materi pencegahan, penanganan, di fase Lock Down ini berharap tidak terjadi karena lebih baik melakukan pencegahan.

Bupati juga memberi himbauan kepada Kantor Pemerintahan, Kantor Pelayanan, tempat perdagangan harus ada Hand Sanitiezer atau Cuci Tangan.

Himbauan juga ditujukan kepada seluruh masyarakat bagi yang akan melakukan perjalanan keluar kota agar mengisi formulir, pada formulir itu akan berisi kemana akan pergi dan kepada siapa saja berinteraksi.

Bupati Bojonegoro berharap agar seluruh masyarakat Bojonegoro paham betul tentang Coronavirus atau Covid-19 dan tata cara penanganan dan pecegahannya agar masyarakat tetap tenang dalam menghadapi wabah penyakit ini.

Banner IDwebhost

Di Bojonegoro sampai dengan tanggal 13 Maret 2020 tidak ditemukan kasus suspek atau konfirmasi Covid-19.

Baca Juga :  Ujian Nasional 2020 Semua Tingkatan Sekolah Ditiadakan

Menurut data kedatangan warga Bojonegoro dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang merupakan rekap data dari Health Alert Card KPP, ada 58 orang yang telah terdata dengan rincian sebagai berikut : 23 orang sudah selesai dilakukan pemantauan selama 14 hari, 18 orang masih dalam pemantauan, yang sudah kembali ke Malaysia 7 orang, yang sudah kembali ke daerah asal luar Bojonegoro 5 orang, 1 orang belum ditemukan alamat jelasnya, 3 orang dideportasi, dan 1 orang yang dirawat dengan kondisi khusus akibat penyakit paru dan bukan suspek Covid-19.

Gubernur Surati Bupati/ Walikota.

Sebelumnya Gubernur Jawa timur melalui surat nomor : 420/1780/101.1/2020, menghimbau agar bupati/ walikota, kepala dinas pendidikan provinsi, dan pimpinan lembaga pendidikan dan pelatihan kedinasan di Jawa timur, untuk mengambil langkah- langkah dalam upaya pencegahan penyebarab COVID-19.

Diantaranya, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada semua jenjang dan jenis pendidikan di Jawa Timur dilakukan di rumah peserta didik masing-masing terhitung mulai tanggal 16 Maret 2020 sampai dengan 29 Maret 2020.

Baca Juga :  RSUD dr. R. Koesma Jadi Rujukan Pasien Corona

Khusus peserta didik kelas XII pada satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, MA, dan MAK yang akan mengikuti Ujian Nasional, tetap dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, yakni tanggal 16-19 Maret 2020 untuk SMK dan MAK, serta tanggal 30 Maret-2 April 2020 untuk SMA dan MA, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan.

Selanjutnya untuk Seluruh Guru/Pengajar/Instruktur, diintruksikan agar menyiapkan materi pembelajaran dan melaksanakan proses belajar mengajar melalui metode dalam jaringan (online) maupun melalui penugasan terstruktur sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan serta melakukan evaluasi hasil setelah peserta didik kembali ke sekolah.

Mendadak.

Keputusan peliburan siswa didik TK, SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA/MAK, dari kewajiban belajar dengan tatap dengan guru di sekolah dinilai mendadak, karena dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Sugito, salah satu wali murid di Bojonegoro mengatakan tidak mengetahui kebijakan peliburan sekolah. Ia justru mengetahui saat menegur anaknya yang tidak berangkat ke sekolah.

Baca Juga :  Terdampak Penanganan Corona Pedagang Kecil Teriak Susah Cari Makan

“Saat sata tanya, kok tidak masih di rumah, apa tidak sekolah?. Anak saya menjawab libur, lantas anak saya menunjukkan pesan whatsapps yang didapat dari gurunya” terang Sugito, kepada netpitu, Senin, (16/03/2020).

Menanggapi peliburan sekolah dari kegiatan belajar mengajar ini, Sugito, mengatakan kurang setuju. Karena situasi di Bojonegoro tidak sama dengan daerah atau perkotaan lain, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Bandung, Denpar, dan juga Surabaya, yang memang padat lalu lintas orang. Baik lokal maupun asing.

” Libur sekolah di luar jadwal yang rugi adalah siswa. Orang tua juga bingung, mau disuruh apa anaknya di rumah,” ujar Sugito.

(yon/met)

Bagikan :