oleh

Kejaksaan Bojonegoro Eksekusi Paksa Andreas, Terpidana Korupsi DPM LUEP

-HUKUM-802 views

BOJONEGORO. Netpitu.com – Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro menangkap paksa terpidana korupsi kasus kredit ketahanan pangan, Andreas Wahyono. Selanjutnya Andreas langsung dijebloskan di Rutan Kelas llA Bojonegoro.

Andreas ditangkap setelah sebelumnya dua kali mangkir dalam pemanggilan eksekusi putusan kasasi Mahkah Agung.

Dikatakan Kasi Pidsus Kejaksaan negeri Bojonegoro, Achmad Fauzan, setelah turunnya putusan kasasi Mahkamah Agung yang diajukan oleh penuntut umum Kejaksaan Bojonegoro,. Pihak Kejaksaan telah mengirimkan surat panggilan eksekusi ke Andreas sebanyak 2 kali. Namun yang bersangkutan tidak hadir.

Untuk panggilan eksekusi ketiga, pemanggilannya sudah bersifat paksa. Jadi terpidana kasus DPM LUEP tersebut dipanggil dan dieksekusi paksa. Saat eksekusi paksa dilakukan oleh petugas Kejari Bojonegoro, tidak ada perlawanan dari Andreas.

Baca Juga :  Polres Bojonegoro Mulai Besuk Gelar Operasi Patuh Semeru

Pemanggilan eksekusi yang pertama, kata Fauzan, dilakukan pada tanggal 2 Mei dan 9 Mei, dan panggilan ekskudi paksa dilakukan pada hati ini (16/52019).

Menurut Kasi Pidsus, mantan Kepala Ketahanan Pangan Andreas, tersebut terjerat kasus dugaan korupsi Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM LUEP) tahun 2007.

Banner IDwebhost

Dana DPM LUEP pada tahun 2007 senilai total Rp 4 miliar itu dikucurkan pada belasan pengusaha gabah di Bojonegoro. Tetapi, proses pengucuran dana itu tidak melalui proses verifikasi yang memadai. Sebab, banyak pengusaha penerima dana itu yang memberikan agunan di bawah nilai pinjaman.

Baca Juga :  Tanpa Hambatan 878 Jemaah Haji Tuban Tiba di Rumah

Dana bergulir DPM LUEP itu akhirnya macet di tengah jalan. Dana yang tidak kembali mencapai Rp1,1 miliar. Banyak pengusaha gabah yang tidak membayar angsuran dengan alasan yang tidak jelas.

Alhasil, Kepala Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur Tadjudin Taher dan mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan Bojonegoro Andreas Wahyono ditetapkan sebagai tersangka karena dana tersebut dikucurkan diduga melayahi aturan yang ada.

Andreas sebelumnya telah divonis pidana oenjara selama 1 tahun 3 bulan oleh pengadilan tipikor Surabaya, di pengadilan tinggi Jawa timur. Namun setelah penuntut umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, majelis hakim MA menjayuhkan vonis hukuman yang lebih berat kepada Andreas Wahyono, menjadi 4 tahun penjara.

Baca Juga :  Wabup Bojonegoro Launching Kampung Lontong Lodeh Mliwis Putih

Selain itu, Andreas juga diwajibkan membayar denda Rp. 200 juta jika tidak tidak dibayar harus diganti dengan pidana kurungan penjara selama 6 bulan. Ditambah lagi, Andreas harus membayar pidana tambahan berupa uang pengganti sebesar Rp 16.250.000,-.

(dan)

Bagikan :