oleh

Ketika Bupati Bojonegoro Langgar Aturan Sendiri

-BERITA, NETSIANA-8.857 views

Netpitu.com – Lagi-lagi aksi bupati Bojonegoro, Anna Muawanah jadi sorotan dan perbincangan publik di media sosial. Lantaran di tengah perang melawan penyebaran pandemi virus corona, bupati Anna Muawanah malah kongkow bareng dengan beberapa perempuan lainnya.

Tampak dalam foto, bupati Bojonegoro itu tengah duduk kongkow bersama dengan hidangan minuman.

Tak jelas apakah minuman yang dipesannya itu kopi, juice atau teh. Bukan minuman itu yang menjadi persoalan gunjingan. Tapi perilaku bupati yang tidak patuh terhadap aturan ketentuan social distancing ataupun psychal distancing, yang tengah dianjurkan oleh penerintah untuk mencegah penularan dan penyebaran virus corona.

Mereka menyayangkan sikap arogan bupati yang tidak patuhi psychal distancing dan social distancing.

Dari foto yang beredar jarak duduk antar orang yang berkumpul nampak jelas tidak ada satu meter. Bahkan mungkin kurang dari 50 centi meter.

Baca Juga :  Kinerja Tim Faslitasi Izin Pasar Ngampel Jauh Panggang Dari Api

Sementara itu dari beberapa kebijakan yang telah dibuat bupati Bojonegoro untuk mencegah penyebaran vitus corona di Bojonegoro, telah diterapkan pada masyarakat.

Petugas gabungan yang berasal dari polisi, tentara dan Satpol PP dengan kerasnya melarang masyarakat yang tengah berkumpul dalam satu tempat. Baik itu warung kopi, warung makan, ataupun warung kaki lima yang menjajakan makanan pada malam hari.

Banner IDwebhost

Masyarakat pun dipaksa untuk mematuhi kebijakan aturan yang telah diterbitkan oleh bupati. Tidak ada yang membantah. Masyarakatpun patuh.

Tapi bagaimana dengan bupati. Beranikah petugas itu memberi teguran ?.

Apakah kebijakan aturan untuk penanganan darurat bencana nasional Corona Viruses Disease ( Covid-19 ) juga untuk dipatuhi bupati. Atau sebaliknya, bupati bebas melanggar aturan karena ia yang membuatnya.

Baca Juga :  Alham M. Ubey :" Selamat New NasDem Bojonegoro "

Tidak seberapa pentingkah aturan itu sehingga bisa seenaknya dilanggar dan tidak perlu dipatuhi oleh bupati. Atau apakan karena seseorang itu menjabat sebagai bupati sehingga boleh mengabaikan ketentuan aturan social distancing atau psychal distancing dalam penanganan penecegahan Covid-19 ini.

Jika masyarakat kesal melihat tingkah polah bupati yang “mbalelo” terhadap aturan yang dibuatnya sendiri tersebut, sangatlah wajar. Karena sebelumnya bupati Bojonegoro juga melakujpkan kegiatan yang mengundang massa banyak, di balai Desa Semambung, Kecamatan Kanor.

Namun fatalnya, belum seminggu, ternyata aturan larangan berkumpul dengan banyak orang kembali dilanggar oleh bupati.

Inkonsistensi bupati inilah yang kemudian dipertanyakan oleh masyarakat.

Karena semua orang tahu, ada aturan kebijakan yang melarang berkumpul lebih dari 5 orang. Larangan mengundang atau mengadakan kegiatan yang dihadiri banyak orang.

Baca Juga :  Menurut Aturan Ini, Presiden Bisa Cabut Kewenangan Bupati Dalam Mutasi dan Pengangkatan Jabatan

Semua kebijakan pelarangan tersebut bertendensi untuk keselamatan kesehatan warga masyarakat di tengah merebaknya pandemi virus corona, yang kemudian juga diamini dan dipatuhi masyarakat dengan baik.

Lantas dengan adanya teladan perilaku bupati Bojonegoro, yang tidak patuhi ketentuan jaga jarak dalam kegiatan sosial sesuai protokol pencegahan wabah Covid-19 ini. Bolehkan masyarakat melanggar dan mengabaikan aturan social distancing, psychal distancing, seperti dilakukan bupati ?.

Jangan ada pembenaran ” Hukum tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas “.

Ditulis oleh :
Edy Kuntjoro
Banteng Merah Putih Bojonegoro.

Bagikan :