oleh

Penjual Nasi Yang Belum Dibayar CEO Persibo Ini Mencari Abdulah Umar

-EKONOMI-783 views

BOJONEGORO. Netpitu.com – Masih ingat dengan Eny Yustiani ?, penjual nasi yang melayani cathering ransum makan minum tim sepak bola Bojonegoro, Persibo dan pelatihnya.

Perempuan berusia 50-an tahun itu, kemarin kembali mempertanyakan itikad baik managament atau CEO Persibo yang diketuai Abdullah Umar, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bojonegoro dari Partai Kebangkitan Bangsa.

Selanjutnya ada Sally Atyasasmi anggota DPRD Bojonegoro dari partai Geribdra dan Kaprawi anggota DPRD Bojonegoro dari Partai Amanat Nasional.

Enny, kembali berkeluh kesah tentang uang makan minum yang belum dibayar CEO Persibo itu. Sembari bertutur kata Enny mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca mengenang kesedihannya.

Kepada netpitu.com Enny bercerita bagaimana susahnya berhubungan dengan anggota dewan perwakilan rakyat.

Menurutnya, seorang anggota wakil rakyat harus memiliki kepekaan terhadap nasib rakyat. Bukan malah dicuekin dan rakyat dibiarkannya jatuh terlunta-lunta meratapi nasib buruknya. Akibat ulah CeO Persibo yang nota bene anggota dewan wakil rakyat yang tidak mau membayar atau melunasi hutangnya.

“Nasi dan airnya sudah dimakan tapi uangnya tak mau bayar, inikah sikap terpuji seorang anggota dewan yang terhormat,” ucap Enny sambil sesenggukan kepada netpitu.com.

Banner IDwebhost

Enny pun kembali bercerita, karena tak kunjung dibayar. Maka ia pun pernah melaporkan persoalan tersebut ke Polisi.

Ah, betapa memalukannya ya jika ketahuan publik, kok ada pengurus Persibo yang ternyata belum bayar uang makan minum pemain dan pelatihnya. Dan parahnya, mereka itu anggota dewan perwakilan rakyat Bojonegoro lho.

Baca Juga :  Polres, Kodim dan Satpol PP Bojonegoro Patroli Oklik Sahur On The Road

Setelah menyerahkan data-data ke polisi sebagai bahan bukti, polisi pun segera meneliti berkas tersebut.

Ternyata ada yang kurang, yakni tidak adanya bukti tertulis diatas kertas tentang perjanjian kontrak penyediaan makan dan minum yang dibuat oleh kedua belah pihak, antara CEO Persibo dan Enny Yustiani, selaku penyedia makanan dan minuman.

“Dikatakan kalau laporanya ini tidak bisa ditindaklanjuti karena buktinya kurang,” ujar Enny.

Namun meski begitu, petugas polisi itu berusaha membantu menyelesaikan masalah Enny dengan pihak Persibo, dengan menelpon pengurus Persibo, termasuk Abdullah Umar, Kaprawi, dan Sally.

Saat itu, polisi hanya mengkonfirmasi persoalan tersebut dan menyatakan agar masalah itu segera diselesaikan.

Dari sejumlah pengurus yang ditelpon menurut Enny hanya Kaprawi yang merespon. Dengan cara menyicil, Kaprawi telah membayar uang makan minum Persibo, sebesar Rp. 26,6 juta dari uang makan minum yang belum dibayar sebelumnya Rp. 46.6 juta.

“Saat pembayaran mencapai Rp. 26,6 juta pak Kaprawi mengatakan sudah tidak sanggup lagi membayar karena tidak punya uang. Selain itu utang makan minum ini adalah tanggung jawab CEO Persibo bukan dirinya pribadi (Kaprawi),” tutur Enny.

Lantas untuk menuntaskan penagihan uang makan minum tersebut Kaprawi menulis surat yang ditujukan kepada CEO Persibo. Surat tersebut dititipkan Enny untuk disampaikan kepada CEO Persibo, Abdullah Umar dan Sally.

Baca Juga :  Petani Tuban Bagi-bagi Gratis 4,5 Ton Buah Melon

Berulang kali Enny mencari Ketua Persibo, Abdullah Umar, ke kantor DPRD tapi tidak pernah ketemu. Enny pun diberitahu oleh salah satu anggota DPRD yang dikenalnya, bahwa Abdullah Umar jarang sekali datang ke kantor DPRD.

“Pernah saya cegat pas ada rapat paripurna DPRD, e… malah katanya jarang datang. Ya sudah, pupus lagi harapan saya. Lalu saya juga beberapa kali datang ke rumah Umar, tapi tidak pernah ketemu dan hanya bertemu dengan isteri dan ibunya Umar. Empat kali saya datang ke rumah Umar,” terang Enhy lebih lanjut.

Selain mendatangi Abdullah Umar, penjual nasi sego buwuhan Katiga ini juga mencoba datang ke rumah Sally, untuk memberikan surat tersebut ke Sally agar disampaikan ke Abdullah Umar selaku ketua Persibo.

Menurut Enny, dirinya tiga kali datang ke rumah kediaman Sally. Saat bertemu Sally pun memberikan informasi bahwa surat dari Kaprawi tersebut sudah disampaikan ke Abdullah Umar. Tapi belum ada respon dari Umar bagaimana soal penyelesaian uang makan minum yang belum terbayar tersebut.

“Saat itu mbak Sally mengatakan jika dirinya juga merasa keberatan jika harus menanggung sendiri semua pembayaran yang menjadi tanggungan Persibo. Masudnya, jumlah ini akan dibayar secara gotong royong dengan Abdullah Umar, namun sayang waktu itu belum ada respon dari Umar,” paoar Enny lagi.

Baca Juga :  Ramadhan Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Bojonegoro Stabil

“Lalu saat saya mau pulang, mbak Sally memberi uang satu juta rupiah sebagai pengganti ongkos, tapi saya tolak. Karena mbak Salky memaksa uang satu juta akhirnya saya terima dengan catatan uang tersebut saya masukan sebagai pembayaran uang makan minum. Jadi kekurangan yang belum dibayar totalnya sekarang menjadi Rp. 19 juta dari sebelumnya Rp 20 juta,” jelas Enny.

Hingga Februari 2019, Enny mengaku masih sering mondar-mandir ke kantor DPRD Bojonegoro, untuk mencari Abdullah Umar, anggota dewan dari PKB. Tetapi selalu tidak ketemu.

Melalui media ini, Enny berharap CEO Persibo yang juga anggota dewan perwakilan rakyat Bojonegoro tersebut masih punya hati nurani untuk menyelesaikan tanggung jawabnya dalam melunasi pembayaran uang makan makan minum tim Persibo Bojonegoro.

“Saya ini juga rakyat Bojonegoro lho, kok tega sih menyengsarakan nasib rakyatnya sendiri,” keluh Enny, di rumah tinggalnya di Jalan dr. Cipto, Bojonegoro.

( BERSAMBUNG )

Ditulis oleh Edy Kuntjoro, berdasar penuturan Enny Yustiani.

Bagikan :