oleh

Merebut Kembali Minyak Jonegoro

Merebut Kembali Minyak Bojonegoro

Penulis : Arieyoko.

Netpitu.com — Sepekan terakhir bersliweran ragam data, baik di aneka media sosial maupun yang di WA grup (wag). Perihal, tak adilnya pembagian PI (Participating Interest) yang ditandatangi pada tahun 2004. Beserta keanehan-keanehan yang timbul. Muncul.

Pemkab Bojonegoro sebagai pemilik lahan minyak sah secara Undang-Undang dan Peraturan, ternyata hanya memperoleh 25% saja dari PI tersebut. Sisa yang banyak yakni sejumlah 75% diterima oleh PT Surya Energi Raya (PT SER).

Bila dirunut ulang, maka telah 16/17 tahun kerja sama bisnis tersebut berlangsung. Dan, selama itu pula, telah berjalan apa yang diputuskan Bupati Bojonegoro/Pemkab dengan seluruh anggota legislatif DPRD periode 2004-2009 –kala itu.

Lalu apa hasil konkret dan nyatanya? Semua itu? Bahwa, Jonegoro memiliki ladang minyak tergede, yang diframing tak keruan sebagai Texas? Sebagai terbesar se Asia Tenggara atawa Dunia. Bahkan.

Di banyak tivi, ditayangkan segala mimpi tentang minyak itu. Lumbung enerji, kota enerji, masyarakat produktif, bla bla bla. Hingga berbuih-buih. Menjadi sihir kemilau tak keruan, berpendar-pendar menyilaukan. Namun, nyatanya mletho.

Banner IDwebhost

Faktanya, jalan-jalan Desa, Kecamatan dan di Kota, tetep saja mletho. Gedung-gedung sekolahan banyak yang tetep rusak, mletho. Kebudayaan berjalan macet dan mletho. Kesenian formal yang semarak, yang profesional, tetap mletho.

Baca Juga :  Mukhlasin Sang Penyentuh Hati Penghuni Lapas Tuban

Heran bin takjub, melihat tayangan tivi bagaimana Presiden Jokowi menggenjot pembangunan jalan-jalan di pelosok Kalimantan, Sulawesi, Irian, Sumatera. Jurang curam dan lebar bisa dengan mudah disambung jembatan.

Sungai lebar dengan berarus deras luar biasa, dapat dibangun tiang-tiang pancang kukuh kokoh menyangga jalan penghubung. Dan masih demikian banyak contoh riil nyata bisa kita manfaatkan sepanjang tol seluruh Jawa. Apakah ini tidak mampu membuka mata hati pejabat dan investor minyak Jonegoro?

Lalu Jonegoro, kota kabupaten tercinta ini? Kok tetep mletho saja. Apa yang kliru, apa sebab dan penyebanya? Jika memang minyak kita punyai sangat amat banyak?

Bangunlah, Lur. Ini milinea.
Bangkitlah, Lur. Dari mimpi-mimpi bodoh itu.

Semua toh sudah pegang android, bisa klik ini – klik itu – klik ono – klik unu. Untuk menyimak, mempelajari, menganalisa, membuat hipotesa, dan seterusnya.

Baca Juga :  Inilah Tiga Langkah Penyelesaian Konflik Bisnis PT. SER dan Pemkab Bojonegoro

Wong kita pun dengan sangat mudah mencari tahu siapa pembawa prososal konsep dana abadi yang heboh-heboh itu. Ia orang mana, domisili di mana, apa yang sudah pernah dilakukan. Seluruhnya, gampanglah kita tahu.

Oh, ya. Lantas kemana uang dana abadi kemarin, itu ya? Yang di saving dari beberapa kas daerah, kan? Selama hampir setahun, kan? Apa kabarnya, Ia kini. Sudah beranak pinak membengkak menjadi berapa? Siapa menikmatinya?

Sejak kecil hingga tuwa, kini, jalan raya kota Jonegoro itu ya Jalan Gajah Mada, Stasiun Kota – pertigaan Sumbang, Tugu Adipura, Jalan Untung Suropati – Jalan Rajekwesi, Terminal Lama, pertigaan nJetak.

Sejak Bupatinya Pak Tamsi Tedjosasmita, lalu ganti bupati, lalu ganti, lalu ganti lagi. Ya, tetep itu-itu. Tidak ada yang berubah. Blass… Yang jelas, pembenahan Jalan Gajahmada pun mangkrak… krakk… krakk…

Yang pasti, Jonegoro telah banyak melahirkan orang-orang sugih. Orang-orang dari pelbagai daerah Indonesia, berduyun-duyun tiba. Lantas sukses, bermobil-mobil, berwajah-wajah gemuk sumringah, berbau harum dan wangi.

Baca Juga :  Cegah Korupsi, Pemkab Bojonegoro Diminta Tak Cairkan Deviden PT. SER Sebelum Renegosiasi

Kotanya sendiri. Kabupatennya sendiri. Desa-desa dan masyarakatnya sendiri. Tetep wae rekasa….saa…saa…..

Perlu ada sikap keprihatinan, tugetder. Untuk meruwat bumi Jonegoro ini. Agar tidak terus terkeok-keok, kalah dengan Tuban, Lamongan, Blora. Para tetangga lama. Itu.

Perlu ada enerji, tugetder. Untuk melakukan perubahan-perubahan bisnis minyak Jonegoro. Kini.

Tuwa, muda, lelaki, perempuan, kudu berhimpun bersama. Berdoa, bermunajad bareng, untuk anak dan cucu dan cicit kelak.

Juga untuk mencatatkan sejarah masing-masing. Bahwa telah melakukan sesuatu sebagai sumbangsih. Kepada bumi Jonegoro. Ini. “ngruwat bumi sak isine, ngonceki barang ala lan culika”

*Arieyoko, sastrawan, budayawan, KSMB (Kelompok SeniMan Bojonegoro)

Bagikan :