oleh

Kadisdik Bojonegoro Pastikan Tidak Ada Aksi Guru Mogok Mengajar, Ketua FGTT Klaim Ada 500 Guru

BOJONEGORO. Netpitu.com – Aksi mogok mengajar dan tidak masuk kerja yang diserukan oleh ketua forum Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap PTT) selama 6 hari dimulai hari ini, Senin (01/10/2018) hingga Sabtu 6/10) mendatang, ternyata tidak banyak mendapat respon GTT dan PTT Bojonegoro.

Dikatakan Dwi Yanto Kepala SDN Campurejo Kecamatan Bojonegoro, dari 6 GTT dan satu PTT yang ada di SDN Campurejo semuanya masuk kerja tidak ada yang ijin tidak masuk atau tidak mengajar bahkan waktu aksi demo kemarin semua PTT dan GTT tidak ada yang ikut.

“Saya memahami apa yang diinginkan para GTT dan PTT, akan tetapi jangan sampai proses belajar dan mengajar terganggu. Untuk SD yang ada di Kecamatan Bojonegoro kelihatannya tidak ada yang mogok,” terang Dwi Yanto, kepada netpitu.com, Senin (1/10), di kantor sekolahnya.

Menurutnya, kalaupun ada yang mogok, pasti antara Kepala Sekolah sudah saling menginformasikan. Hingga kini belum ada yang memberitahukan adanya guru ataupun pegawai yang mogok mengajar.

Hal ini juga ditegaskan oleh Hanafi, Kepala Kantor Disdik Bojonegoro, tidak ada aksi mogok yang dilakukan GTT dan PTT, sebagaimana diserukan oleh forum GTT dan PTT K2 Bojonegoro

Dijelaskan Hanafi, begitu pihak Disdik Bojinegoro menetima surat pembertahuan rencana aksi mogok GTT dan PTT, pihak Disdik Bojonegoro telah melakukan langkah antisipasi dengan mengirim surat himbauan agar guru dan pegawai tidak tetap mengajar supaya kegiatan belajar mengajar tidak terganggu.

“Hari ini, tidak ada aksi mogok guru GTT dan PTT, bila ada sejumlah GTT dan PTT  yang tetap melanjutkan aksinya, kebijakannya diserahkan kepada sekolah masing-masing, dikarenakan yang mengangkat guru honorer itu kepala sekolah”, tegas Kepala Disdik Bojonegoro.

Sementara itu, ketua FGTT/PTT K2 Bojonegoro, Arif Rida Rifai, yang dikonfirmasi melalui whatsaapnya mengatakan bahwa aksi mogok mengajar pada Senin ini diikuti sekitar 500 guru. Ia tidak kuatir dengan adanya ancaman sanksi dicabutnya sertifikasi mereka. Karena 100 persen yang ikut aksi mogok mengajar tersebut adalah honorer guru belum sertifikasi.

Meski ketua FGTT/PT K2 Bojonegoro menyebutkan peserta aksi mogok mengajar tersebut ada sekitar 500 orang guru, tapi data tersebut disangsikan kebenarannya. Karena tidak ada satupun laporan yang masuk ke kantor Disdik Bojonegoro perihal aksi guru mogok mengajar tersebut.

Ketika dikonfirmasi perihal aksi guru mogok mengajar ini, Arif Rida Rifai mengaku jika baru pulang perjalanan dari Blitar.

“Ada dua versi aksi mogok yang dilakukan, pertama tidak masuk (ke sekolah) dan tidak mengajar, kedua masuk kerja tetapi tidak mengajar,” tulis Arif dalam pesan whatsaapnya kepada netpitu.com.

Sebelumnya diberitakan, Ajakan mogok mengajar dan bekerja yang diserukan oleh sejumlah guru yang mengatasnamakan Forum GTT/PTT Dinas Pendidikan Bojonegoro, ditolak oleh sebagian besar anggita forum GTT/PTT Bojonegoro.

Mereka menganggap aksi mogok mengajar bukanlah cara-cara elegant seorang guru dalam memperjuangkan nasibnya. Selaij tidak pantas juga hanya akan merugikan murid-murid di sekolah karena gurunya tidak mengajar.

Seperti diungkapkan Siska Aprilia Novianti, seorang guru di SD Negeri 2 Sumberagung, Dander, aksi mogok atau mogok kerja, bukanlah cara guru menyampaikan pendapat kepada pemerintah. Ada saluran resmi yang bisa didatangi untuk menampung aspirasi, yakni DPRD dan Pemerintah daerah.

Ajakan aksi itu menurut Warpian, S.Pd, sekretaris l Forum GTT/PTT Bojonegoro, justru akan merugikan anak didik, merugikan masa depan bangsa, dan meninggalkan nurani kami sebagai seorang Guru (meski masih berstatus honorer) yang telah bertekad mengabdikan diri sebagai pendidik.

(pur)