oleh

Pancasila Dalam Perjuangan “Keadilan”

Pancasila Dalam Perjuangan “Keadilan”,
Oleh : Edy Kuntjoro.

Ada pesan mendalam yang terkandung dalam Pancasila. Pesan perjuangan yang harus dicapai oleh bangsa Indonesia untuk meraih kebahagiaan hidup yang damai dan sejahtera dalam kerangka bernegara.

Pesan tersebut termaktub dalam Sila Kedua dan Kelima. Yakni, pesan “Keadilan”.

Adil, adalah satu suku kata yang dua kali disebutkan dalam sila-sila Pancasila. Pada sila kedua, Kemanusian yang adil dan beradab, dan pada sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia.

Nampaknya, para pendiri bangsa ini tahu betul persoalan apa yang akan menjadi masalah bangsa ini di kemudian hari dalam mencapai kebahagiaan hidup yang damai dan sejahtera.

Karena, sesungguhnya hanya dengan terciptanya keadilan itulah tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia bisa diwujudkan.

Dari masa kemerdekaan hingga masa sekarang, kata keadilan masih menjadi persoalan yang selalu diteriakkan oleh hampir semua rakyat. Menjadi kata kunci perjuangan bagi para politikus dalam pencalonannya sebagai pimpinan, baik Pilihan Presiden, Pilihan Gubernur, Pilihan bupati/ walikota, Pilihan Kepala desa, dan bahkan Pilihan anggota perwakilan rakyat.

Tapi sayangnya, ketika tujuannya menjadi pemimpin itu tercapai, bukannya memperjuangkan keadilan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Tetapi malah sebaliknya, mencundangi rakyat dengan mengabaikan amanah rakyat. Rakyatpun menderita, miskin dan tertindas oleh ketidakadilan.

Untuk menjadi manusia adil, sesorang haruslah mampu menjadi pribadi yang mulia, luhur budi pekerti, dan bijaksana.

Mengalahkan kepentingan pribadi dan kelompoknya adalah kunci menuju kata adil. “Ambeg parama artha” yang berarti mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi menjadi tolok ukur dari segala bentuk keputusan dan kebijakannya.

Untuk itu manusia adil harus memahami makna Ketuhanan yang maha esa, makna Kemanusiaan yang adil dan beradab, makna ( kerukunan ) Persatuan Indonesia ( kebangsaan ), makna Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan makna Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Tanpa itu semua, mustahil seorang pemimpin bisa menjadi bijak dan berlaku adil. Pemimpin yang “adil” adalah pemimpin yang memiliki kebesaran jiwa, hati dan pikiran. Serta pemimpin yang mengedepankan nilai-nilai norma, baik itu norma agama, norma kemanusiaan, norma kesatuan/ kerukunan, norma permusyawaratan perwakilan, dan norma keadilan sosial.

Pemimpin dengan kualitas seperti diatas adalah pemimpin yang tidak pernah mendahulukan ke-aku-an-nya, dan tidak menunjuk siapa “aku” pada dirinya sendiri. Karena dia sadar, bahwa ia menjadi pemimpin yang dipilih oleh rakyat untuk membawa tujuan rakyat mencapai kehidupan sejehtera dan kebahagiaan hidup yang damai abadi.

Atau dengan kata lain, sejatinya pemimpin yang adil adalah rakyat yang sadar telah diberi kepercayaan ( amanah ) untuk memperjuangkan keadilan bagi seluruh “rakyat” tanpa terkecuali. Inilah pemimpin yang melayani rakyat.

Lantas pertanyaannya.
Sudahkah kita memiliki pemimpin seperti yang kita harapkan ?.
Sudahkah pemimpin kita memahami nilai-nilai Pancasila ?.
Jika jawabnya belum, berarti rakyat harus terus berjuang untuk mendapatkan ke-adil-an.

 

Ditulis di Bojonegoro, pada 01 Juni 2020. Saat peringatan hari lahir Pancasila.
Penulis adalah Pimpinan Redaksi netpitu.com.