oleh

Temu Kangen Wartawan Bojonegoro Tempo Dulu

BOJONEGORO. Netpitu.com – Sejumlah wartawan Bojonegoro “tempo doeloe” era tahun 1980 – 1990- an bersilaturahmi temu kangen wartawan, Jum’at,(1/8). Hadir dalam acara tersebut, Mundzar Fahman, Arieyoko, Bambang soen, Aguk Soedarmodjo, M. Adib. Edy Kuntjoro, M. Chuzaeni, Ddik Farqan, dan beberapa wartawan lain.

Silaturahmi yang digagas Didik Farqan tersebut terasa hangat ketika beberapa wartawan bercerita kilas balik sekitar kegiatan jurnalistik di Bojonegoro pada era tahun 1980 – an. Dimana pada tahun itu Bojonegoro hanya memiliki tiga orang wartawan, Budiman, Ali Usman, dan Khozein.

“ Waktu itu, di Bojonegoro hanya ada tiga wartawan, pak Budiman sebagai ketua PWI Bojonegoro, bang Ali Usman, dan Nurkhozein,” ujar Arieyoko, mantan wartawan Republika. Nurkhozien adalah ayah Didik Farqan, yang kemudian mengikuti jejak ayahnya bekerja sebagai wartawan Memorandum.

Baru menginjak tahun 1989 – 1992 jumlah wartawan yang bertugas Bojonegoro bertambah menjadi 13 orang. Mereka adalah, Arieyoko (Suara Merdeka), Budi Dharma (Kompas), Bambang soen (Surabaya Post, Tuban), Aguk Sudarmodjo (Surabaya Pos, Bojonegoro ), Nyoman Sudarta (Fakta), Edy Kuntjoro (Suara Indonesia), Mustain (Jawa Pos), M. Chuzaeni (Bhirawa), Sugiharto (Karya Dharma), M. Adib (Suara Merdeka), Djayus Pete, JFX. Hoery.

Didik Farqan (Memorandum), Alham M. Ubei (Karya Dharma) bertugas sebagai wartawan di Bojonegoro sekitar tahun 1993/94, setelah masa kepemimpinan PWI yang dikomandani Arieyoko.

Meski acara temu kangen tersebut diberi tagline wartawan tempo doeloe namun beberapa wartawan era tahun 2000 banyak pula yang hadir. Diantaranya, M. Taufik, Hidayat, Amin Priyanto, Kohar, Tony, dan Triyono.

Sebagai penggagas pertemuan, Didik Farqan, berharap ada tindak lanjut dari pertemuan tersebut.

“Kalau bisa dibuat buku tentang Sejarah Wartawan Bojonegoro,” ujar Didik yang diamini semua tamu undangan yang hadir.

(Red)