oleh

Forum Aksi Mahasiswa Unjuk Rasa Desak Polisi Usut Tuntas Hoax Ratna Sarumpaet

JAKARTA. Netpitu.com – Forum Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI) berunjuk rasa di depan Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (4/10).

Puluhan mahasiswa itu datang ke Mapolda metro dengan membawa spanduk bertuliskan “Tangkap aktor penyebar hoax” dan massa menuntut polisi menuntaskan laporan hoax Ratna Sarumpaet.

Salah seorang peserta aksi menyuarakan tuntutan agar polisi segera menyelesaikan kasus kebohongan Ratna Sarumpaet.

Menurut pengunjuk rasa Ratna Sarumpaet telah menyebar hoax yang ciptakan kegaduhan. Selain itu, Prabowo dan Fadli Zon cs juga ikut menyebarkan berita tersebut.

“Polisi harus berani mengusut tuntas kasus tersebut agar Indonesia terhindar dari hoax,” ujar peserta aksi.

Menurut koordinator aksi, Mamad, hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet harus diusut tuntas.

“Prabowo sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kebohongan Ratna Sarumpaet dan Fadli Zon. Polisi harus mengusut tuntas kasus ini,” kata Mamad kepada wartawan.

Atas kebohongannya Ratna Sarumpaet sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh sejumlah elemen masyarakat dan penyelidikan kasus hoax Ratna Sarumpaet dipastikan polisi akan terus berlanjut.

“Ada 4 laporan polisi di Polda Metro Jaya. Yang bersangkutan (Ratna Sarumpaet) sebagai terlapor nanti kita penyelidikan,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Kamis (4/10).

Dari laporan yang masuk, sambung Argo, polisi akan memeriksa saksi pelapor, mencari barang bukti, serta meminta keterangan ahli.

Sementara itu, menyikapi kebohongan Ratna Sarumpaet ini Garda Nasional Untuk Rakyat (GNR) juga menggelar aksi damai di Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pagi ini.

Aksi damai digelar untuk menuntut Bawaslu agar mendiskualifikasi pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebab, keduanya turut menyuarakan kebohongan soal penganiayaan yang dialami Ratna S. di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.

“Garda Nasional Untuk Rakyat menilai perbuatan Prabowo sangat memalukan. Juga berpotensi memecah belah kerukunan dan persatuan Republik Indonesia karena menebarkan kebencian,” kata Sekjen GNR Ucok Khoir dalam keterangan tertulisnya

(mdk/ams)