oleh

Memimpikan Bojonegoro Baru

Rezim kali ini berlatar belakang dari kalangan akademisi ternyata tidak berbanding lurus dengan program cerdas yang semestinya bisa lahirkan. Terbukti kesejahteraan yang dirasakan oleh rakyat bojonegoro masih jauh dari kata mimpi.

Periode pertama dia adalah tokoh fenomenal yang berhasil membuat rakyat terperdaya oleh sepakterjangnya yang flamboyan, setiap tempat pun disambanginya sampai disudut kabupatenpun dia sangat mafhum. Produk brandingnya saat itu membangun Bojonegoro MELEBIHI Lamongan, adalah slogan yang mampu membuat warga bojonegoro termimpi mendadak, membayangkan benar apa yang dikampanyekan, kesejahteraaannya bakal terangkat dan lebih makmur.

Periode kedua, dengan pola strategi yang berbeda pula, incumbent harus lebih berkeringat lagi merebut simpati rakyat, karena dia menyadari bahwa jargonnya diperiode pertama dulu dianggap rakyat sebagai tipu muslihatnya belaka. Strategi membunuh karakter lawanpun dilakukan, saat sang rezim menakar keluatan lawan sangat membahayakan posisinya.

Mencari cari kesalahan lawan dan melakukan politik dagang sapipun dilakukan agar si rezim dapat terus melanggengkan kekuasaaan lima tahun berikutnya. Penggelontoran duit yang masif bukan tidak mungkin saat itupun dilakukan, yang biasa kita kenal dengan moneypolitik menjadi barang yang bebas berkeliaran hingga dipelosok desa, sambil mengkampanyekan rivalnya telah hilang lari tunggang langgang. entoh demikian si rezim nyaris kalah dalam perhelatan demokrasi saat itu.

Sekarang dipenghujung kekuasaannya, nampaknya kursi si rezim makin tak bisa tidur nyenyak. Seribu satu strategi dilakukan untuk melihat kekuatan lawan yang dianggap membahayakan “bangunannya”. Seluruh punggawanya dikerahkan disebar hingga kepelosok antero penjuru desa. Ibarat kata angin dan dedaunan pun melaporkan kepada yoto apa yang sedang terjadi di wilayah kekuasaannya.

sang Rezim sadar betul, kali ini masa gentingnya, para rivalnya membaca polanya yang bengis dan licin. Ada yang terpancing adapula bakal calon yang menjadi membentokan diri tanpa sadar bahwa dia sedang dimainkan olehnya.

Masyarakat bojonegoropun sadar akan kondisi suhu politik jelang pilkada kali ini yang seperti tak ada apa apa pada kemeriahan eforianya. Rakyat tampak apatis dengan model politik yang dibangun oleh sang rezim, yakni poltik membunuh lawannya tiada ampun. Para pejabatnya dan calon calon pemimpin menjadi takut akan prilaku politik yang kejam dan tiada ampun.

Pada siapa si Rezim akan tunduk, pada siapa Rezim akan manut, pada siapa Rezim akan membunuh, semuanya diperhitungkan dengan matang, asal kepentingannya terpenuhi, dan akan “membunuh” semuanya disaat mereka lengah.

Urusan kesejahteraan rakyatnya, jangan ditanya seberapa besar rakyatnya disejahterakan, dengan berlatarbelakang akademis, sang rezim bisa membuat rakyatnya menjadi mlongo mendadak, yang seakan itu bukan kesalahan dirinya sebagai pemimpin, tapi rakyatnya sendiri yang dibodohkan, mengapa tidak mau sejahterakan dirinya sendiri dengan caranya sendiri. Jika ada yang surfive, maka sang rezim pun mendadak menjadi pahlawan atas kerjakeras rakyatnya sendiri.

Melihat kondisi bojonegoro hari ini, kita seakan diingatkan kembali pada zaman jahiliyah, semuanya mendadak “diBODOHkan” oleh rezimnya. Siapapun tidak boleh mengatakan “salah” jika terkait dengan kebijakan pemerintahannya, walaupun itu kasat mata terjadi.

Akhirnya semua dikembalikan pada rakyat bojonegoro, mari terus belajar, jangan mau diBodohi, karena pembodohan pada rakyat itu sendiri adalah jahiliyyahnya jahiliyah.

Wallahu ‘alam bisshowab

Al-faqir – Bojonegoro, 6 Juli 2017