oleh

Puisi Dajal Menghentak di Panggung Sastra Plataran Bojonegoro

BOJONEGORO. Netpitu.com – Puisi Dajal, buah karya KH. Mustofa Bisry, Sabtu (7/10) malam kemarin menghentak kesunyian halaman gedung PC NU Bojonegoro yang berada di Jalan A. Yani, Bojonegoro, tempat digelarnya Sastra Plataran, oleh Lesbumi dan KSMB (Kelompok Seniman Bojonegoro).

Dibacakan oleh Edy Kuntjoro, puisi Dajal ini memuat sindirin dan kritik tajam yang ditujukan kepada para penguasa, pejabat pemerintah baik di pusat maupun di daerah bahkan di Desa sekalipun.
Tak pelak, selama pembacaan puisi berlangsung seluruh penonton yang hadir diam, menyimak kata demi kata yang terlontar dari mulut pembaca. Apalagi dalam puisi Dajal ini hampir 80 persen adalah tertawa terbahak.

Menurut Edy Kuntjoro, tertawa terbahak-bahak bukanlah ekspresi yang dibuat-buat oleh pembaca melainkan tuntutan naskah puisi yang harus dibaca oleh pembaca.

“Ya memang disitu ditulis hoahahaha, hoahahaha, dari awal puisi hingga akhir puisi. Sajak Dajal karya Gus Mus ini memang berat, pembaca harus punya stamina bagus dan pernafasan yang mumpuni. Karena tuntutan membaca sambil terus tertawa dari awal hingga akhir itu bisa sampai 5 menit tanpa putus. Tertawa terus,” ujar Edy Kuntjoro, ditemui di Sastra Plataran, Sabtu (7/10).

Puisi Dajal, sangat relevan jika disandingkan dengan situasi Bojonegoro saat ini, apalagi menjelang pergantian pemimpin daerah Bojonegoro. Ia melihat ada upaya-upaya dari para penguasa untuk tetap dapat memegang kendali kekuasaan di pemerintahan.

Meski pemilihan kepala daerah nantinya dilakukan dengan sistem demokrasi, dimana rakyat bebas menentukan pilihannya, tetapi calon yang rakyat untuk dipilih inilah yang bermasalah. Lantaran belum tentu calon yang diusung oleh partai-partai itu nantinya calon yang dikehendaki rakyat.

Makanya kalau sekarang muncul upaya dari penguasa akan menjadikan Pilkada Bojonegoro dengan calon tunggal atau head to head, sebenarnya itu bukan lagi rahasia umum. Tujuannya jelas, mereka ingin berkuasa kembali.

Sehingga dengan terbatasnya calon pemimpin yang dipilih maka kebebasan rakyat untuk memilih menjadi semu karena tidak sesuai hati nurani. Rakyat tidak bisa mengekspresikan hak kebebasannya lantaran calon yang harus sudah ditentukan dipilih harus itu.

Apalagi diketahui ada agenda besar dari penguasa yang sekarang ini untuk menggolkan dan mengawal “dana abadi” DBH Migas.

“Kan penguasa sekarang juga sudah sumbar akan melawan yang tidak mendukung dana abadi migas. Ini bisa jadi ancaman Pilkada jujur, bebas, adil dan berintegritas. Akhirnya yang ada adalah demokrasi yang sakit-sakitan, rapuh, dan berpotensi menimbulkan permasalahan di kemudian hari,” ujar Edy Kuntjoro.

“Soal dana abadi, serahkan saja pada pilihan rakyat pemilik hak. Apakah meraka setuju atau tidak dan itu akan ditentukan dalam pemilihan kepla daerah nanti. Jadi jangan monopolilah,” tambahnya.

Dibacakannya puisi Dajal yang ditulis Gus Mus pada 1991 ini, bidang program Sastra Plataran ini untuk mengingatkan kembali bahwa perilaku iblis yang bernama Dajal itu bisa terjadi dimana-mana dan bisa mengena pada siapa saja.

“Termasuk saya dan penonton yang berada di depan panggung Sastra Plataran ini, dan tak luput pula para politisi partai dan penguasa yang tengah menjalankan amanah rakyat. Puisi itu bende (tabuh) untuk mengingatkan atas ketidak-benaran dan ketidak-adilan yang terjadi,” tandasnya.

Ia berharap para penyelenggara negara sadar betul bahwa ambisi yang berlebihan hanya akan membawa bencana dan tidak memberikan manfaat dan berkah bagi umat.

Selain puisi karya Gus Mus, di pangung Sastra Plataran yang digelar sekali dalam setiap bulannya itu dibacakan pula puisi-puisi karya penyair lokal Bojonegoro yang sekarang ini tengah menuju panggung sastra nasional, yaitu Arieyoko, yang dibacakan oleh Kismi KSMB, Mas Totot, Gendut Suharso, Agung Depe, Siswo Wahyudi, Fauzi zam-zam, Adib IPNU, Nanto IPNU, dan beberapa mahasiswa IAI Sunan Giri.

Inilah Puisi DAJAL Karya KH. Musthafa Bisry, yang ditulis pada 1991.

Dajjal
Karya : KH. Musthafa Bisri

Hoahaha hahahoa
Bermata satu berlisan ganda
Bertelinga satu bertangan sejuta
Hoahaha sungguh perkasa
Hahahoa alangkah kuasa
Hoahaha hahahoa
Hahahoa menggenggam surga
Hoahaha menimang neraka

Hoahaha hahahoa
Hahahoa mengajarkan hak asasi
Hoahaha menebarkan intimidasi
Hahahoa menatarkan demokrasi
Hoahaha mengamalkan tirani

Hoahaha hahahoa
Mengibarkan panji kemanusiaan
Dan merobek-robeknya
Hoahaha hahahoa
Menyuarakan kebenaran
Dan memenjarakannya

Hoahaha hahahoa
Mencanangkan peradaban
Dan mencincangnya
Hoahaha hahahoa
Menyerukan pembaruan
Dan menyurutkannya
Hahahoa hoahaha

Beritamu hahahoa deritaku
Guritamu hoahaha gulitaku
Serakahmu hahahoa sekaratku
Seterukmu hoahaha sekutuku
Pengaruhmu hahahoa pembunuhku
Pelurumu hoahaha peluruhku
Nirwanamu hahahoa nerakaku

1991. KH. A. Mustofa Bisri.

(R/Dan)