Profesor Al Makin, Intelektual Muda Dari Pelosok Kampung Bojonegoro

- Team

Kamis, 8 November 2018 - 22:47

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO. Netpitu.com – Al Makin lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 12 September 1972. Ayahnya seorang guru dan kiyai ngaji di pelosok kampung dekat hutan jati di Desa Sidorejo, Kedungadem, Bojonegoro. Ibunya juga seorang guru madrasah.

“Bisa dibilang, ayah seorang dukun, tempat orang-orang di kampung mengadu dan meminta pertolongan untuk semua persoalan,” katanya.

Menyelesaikan pendidikan dasar di madrasah ibtidaiyah di kampung, dia lantas belajar di Madrasah Tsanawiyah Negeri I Bojonegoro sembari mondok di Pesantren Adnan Al-Charish. Dia kemudian belajar di MANPK (Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus) Jember, program yang dicanangkan Menteri Agama Munawir Sadzali, untuk mencetak ulama-intelektual.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Al Makin ambil kuliah S1 Jurusan Tafsir Hadist, Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1996). Lulus, dia kemudian melanjutkan studi ke luar negeri. S2 di The Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada (1999), dan meraih S3 di Universitas Heidelberg, Jerman (2008). Disertasinya tentang Musaylimah, seorang pendaku nabi yang gagal mendirikan komunitas di Yamamah pada abad ke-7 bersamaan dengan kelahiran Islam.

Baca Juga :  Kapolres Janjikan Hadiah Dan Suport Penuh Dua Siswa SMKN Rengel

“Saya mendalami keilmuwan klasik di madrasah dan pesantren, kemudian lanjut S2 dan S3 di Kanada dan Jerman. Ramuan pendidikan yang mungkin terasa aneh ini membentuk cara berpikir saya yang terbuka,” katanya.

Kini, selain menjadi dosen di Fakultas Ushuluddin UIN Yogyakarta, Al Makin juga dipercaya menjadi Ketua LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) dan Editor in chief, “Al Jam’iah”, international journal of Islamic studies. Pada tahun 2018, dia dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Ilmu Filsafat di kampus yang sama.

Tahun 2017, dia menjadi anggota ALMI (Akademi Ilmuwan Muda Indonesia). Dia juga aktif sebagai peneliti dan dosen tamu di beberapa universitas mancanegara, antara lain: University of Western Sydney, Australia (2014), Heidelberg University, Jerman (2014), Asia Research Institute, National University of Singapore (2011-2012), French Business School ESSEC, Asia Pacific, Singapore (2012), Bochum University, Jerman (2009-2010), dan McGill University (2009).

Baca Juga :  Klarifikasi Kepsek SMAN Model Terpadu Soal Photo Dua Jari

Di luar mengajar dan meneliti, dia aktif menulis artikel di jurnal internasional dan tulisan populer di koran. Sejumlah bukunya, antara lain: “Anti Kesempurnaan: Membaca, Melihat, dan Bertutur tentang Islam” (2002), “Nabi Palsu, Membuka Kembali Pintu Kenabian” (Arruz, 2003) dan “Bunuh Sang Nabi: Kebenaran di Balik Pertarungan Setan melawan Malaikat” (Hikmah Mizan, 2006), “Antara Barat dan Timur: Melampui Jurang Masa Lalu untuk Meniti Jembatan Penghubung Barat dan Timur” (2015/2016), “Keragaman dan Perbedaan: Budaya dan Agama dalam Lintas Sejarah Manusia”( 2016), dan “Nabi-Nabi Nusantara: Kisah Lia Eden dan lainnya”( 2017).

Baca Juga :  Orang Tua Murid Harus Turut Serta Dalam Pendidikan Karakter Anak

Beberapa bukunya terbit dalam bahasa Inggris, yaitu “Plurality, Theology, Patriotism: Critical Insights into Indonesia and Islam” (2017), “Challenging Islamic Orthodoxy, the Accounts of Lia Eden and Other Prophets in Indonesia” (2016), dan “Representing the Enemy: Musaylima in Muslim Literature (2010).

“Ratusan nabi Nusantara telah muncul dan mendirikan kelompok-kelompok baru, memberontak kolonialisme pada masanya, mengisi kemerdekaan, menyuarakan keadilan, dan memberi alternatif saat krisis. Kita perlu para akademisi yang “menyelamatkan” bangsa, yang berfikir, menulis, meneliti, dan melahirkan karya dan ilmu pengetahuan. Kita bisa memperbaiki bangsa ini lewat pengetahuan dari tradisi, budaya, dan khazanah spiritualitas,” katanya tentang berbagai penelitiannya tentang nabi-nabi di Nusantara dan relevansinya dengan situasi kekinian.

(***)

Berita Terkait

Idhul Adha, SMKN 1 Bojonegoro Potong 5 Ekor Sapi Qurban
Job Fair SMKN 1 Bojonegoro Sukses Jaring 1.217 Orang Pelamar Kerja
Job And Edu Fair SMKN 1 Diserbu Peminat Kerja Bojonegoro
Diikuti 44 Didu dan PT, SMKN 1 Bojonegoro Mulai 11 – 13 Juni Gelar Job Fair Untuk Umum
Sekda Nurul Azizah Sapa Ribuan Warga di Pengajian Ning Umi Laila
Satu Jiwa Tolak Korupsi, Roadshow PMK ke 66 di Bojonegoro
PPDB SMKN Tuban – Bojonegoro Resmi Ditutup, 1109 Bangku Tak Terisi
Orang Tua Wali Murid Pertanyakan Uang Tabungan dan Uang Kunjungan Industri Yang Belum Dikembalikan

Berita Terkait

Senin, 10 Juni 2024 - 11:47

408 Kades nek Bojonegoro Masa Jabatane Ditambahi 2 Taun

Selasa, 4 Juni 2024 - 20:43

Banyak Masalah, PDIP Minta Pemerintah Batalkan PP No. 21 Tahun 2024 Tentang Tapera

Jumat, 19 Januari 2024 - 11:25

Pengajuan Penetapan Nama Pada Ijazah Muk’awanah Tak Penuhi Norma Hukum Administrasi Kependudukan : Pengadilan Harusnya Menolak

Jumat, 8 Desember 2023 - 19:29

Sikapi Pencoretan Caleg, DPC PPP Laporkan KPUD dan Bawaslu Kab. Bojonegoro ke DKPP

Rabu, 6 Desember 2023 - 12:10

Sunaryo Abuma’in : LABH PPP Layani Pendampingan dan Bantuan Hukum Gratis Pada Masyarakat

Senin, 4 Desember 2023 - 16:43

PPP Maksimalkan Peran Saksi di Setiap TPS

Senin, 4 Desember 2023 - 08:11

Menangkan Pemilu 2024 DPC PPP Masivkan Konsolidasi, Sosialisai ke Kader di Tingkat Kecamatan dan Desa

Jumat, 1 Desember 2023 - 08:54

Jum’at Hari Ini Bawaslu Gelar Sidang Pelanggaran Administrasi Pelaporan Anwar Sholeh

Berita Terbaru

PENDIDIKAN

Job And Edu Fair SMKN 1 Diserbu Peminat Kerja Bojonegoro

Selasa, 11 Jun 2024 - 11:03

POLITIK DAN PEMERINTAHAN

408 Kades nek Bojonegoro Masa Jabatane Ditambahi 2 Taun

Senin, 10 Jun 2024 - 11:47