Jokowi : Kebudayaan Butuh Panggung Ekspresi Dan Toleransi

- Team

Senin, 10 Desember 2018 - 08:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Jokowi membaca puisi

Presiden Jokowi membaca puisi "DIPONEGORO" karya Chairil Anwar, saat hadir di Kongres Kebudayaan Indonesia ke 100, di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Minggu, (9/12/2018).

JAKARTA. Netpitu.com – Presiden Jokowi mengaku prihatin dengan maraknya fitnah hingga ujaran kebencian dalam kontestasi kontestasi politik saat ini. Menurut Jokowi, kebudayaan bangsa harus dilandasi dengan jiwa toleransi dalam kontestasi kata.

“Harus diingat kontestasi kata tanpa toleransi akan memicu perang kata yang penuh ujaran kebencian, saling menghujat, saling memfitnah, seperti yang sering kita lihat akhir-akhir ini,” ujar Jokowi di Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (9/12/2018).

Tak hanya itu, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengimbau masyarakat untuk menghindari kontestasi politik yang menghalalkan segala cara untuk kemenangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Jokowi, masyarakat membutuhkan panggung interaksi yang bertoleransi.

“Oleh karena itu kita tidak hanya cukup menjamin ketersediaan panggung ekspresi. Kita butuhkan panggung toleransi dalam berinterkasi,” ucap dia.

Jokowi menyatakan negara juga harus memfasilitasi masyarakat untuk berekspresi dengan penuh toleransi. Namun, hal tersebut tidak dapat dimanfaatkan bila masyarakat tidak memiliki nilai toleransi dalam dirinya.

Baca Juga :  Hanya Ada di Musim Kemarau, Pesona Wisata Air Terjun Kracaan Membuai Angan

“Yang dibutuhkan bukan hanya ruang yang ada di diri kita. Tapi juga di dalam tubuh dan dalam pikiran kita. Ini penting sekali,” jelas dia.

Menurut Jokowi, inti dari sebuah kebudayaan yakni kegembiraan. Apalagi saat ini perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, dia mengimbau agar masyarakat terus dan aktif sama menjaga kebudayaan.

Jokowi juga mengatakan, salah satu tantangan yang dihadapi ( Indonesia ) kini adalah melestarikan budaya Indonesia di tengah budaya dunia.

Namun, ia percaya budaya Tanah Air akan tetap lestari, berkat kontribusi para sejahrawan dan budayawan yang turut hadir dalam acara tersebut.

“Saya sering miris menghadapi tantangan kebudayaan yang semakin kompleks. Namun, saya yakin kebudayaan kita tetap mengakar kuat dalam ke-Indonesiaan kita, sekaligus tumbuh subur mewarnai belantara budaya dunia,” ujar Jokowi, Minggu.

Baca Juga :  Gedung Pusdiklat Dijadikan RS Sementara Covid-19

“Berkat semangat dan kerja keras bapak, ibu, semuanya yang luar biasa. Terima kasih sebesar-besarnya,” sambung dia.

“Kita harus selalu ingat untuk terus aktif, nguri-uri kebudayaan Indonesia, kebudayaan nusantara. Dan sekaligus menguatkan dan mengembangkannya dalam menghadapi perkembangan zaman tersebut,” kata Jokowi.

Kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Indonesia, lanjut Jokowi, merupakan karya dari sejarah panjang peradaban bangsa. Mulai dari pengalaman panjang menghadapi alam, menghadapi perkembangan zaman dalam upaya memecahkan persoalan-persoalan yang ada.

Karena hal itu, Jokowi mengucapkan terima kasih untuk para budayawan serta para pekerja budaya yang telah ikut serta dalam mempertahankan budaya yang ada.

Sejak dilaksanakan pada 5 Desember 2019 hingga 9 Desember kemarin, kongres ini dihadiri kurang lebih 7 ribu orang,” kata Muhadjir.

Pada acara tersebut Presiden Jokowi memberikan penghargaan kepada dua budayawan dan dua sastrawan Indonesia. Keempat orang yang menerima penghargaan tersebut, yaitu Ismiyono, Hubertus Sadirin, Putu Wijaya, dan D. Zawawi Imron.

Baca Juga :  Menelisik BOP Pontren, MDT dan TPQ Untuk Pencegahan Covid-19 (2): Pengakuan Kemenag Mengejutkan

Yang menarik dalam pidato Presiden Jokowi, sebelum mengakhiri sambutannya, Jokowi menutupnya dengan membacakan sebuah puisi berjudul Diponegoro karya Chairil Anwar.

Berikut puisi milik Chairil Anwar yang dibacakan Jokowi:

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(*/ams)

Berita Terkait

Polres Tuban Bakal Panggil Anna Mu’awanah Terkait Dugaan Laporan Palsu Ke Polisi
Idhul Adha, SMKN 1 Bojonegoro Potong 5 Ekor Sapi Qurban
Komunitas IRL Jatim Bagikan Takjil di Bojonegoro
Kemenag Bojonegoro Pastikan Kegiatan Belajar Mengajar di Madrasah Berjalan Normal
Kadal Ireng Bagikan 350 Takjil ke Masyarakat
Rayakan Annyversary ke 75, Persibo Dapat Hadiah Armada Bus Dari Sedulur Pitu
Pengajuan Penetapan Nama Pada Ijazah Muk’awanah Tak Penuhi Norma Hukum Administrasi Kependudukan : Pengadilan Harusnya Menolak
Sikapi Pencoretan Caleg, DPC PPP Laporkan KPUD dan Bawaslu Kab. Bojonegoro ke DKPP