oleh

Tak Dapat BLT, Siti Rujidah, Warga Miskin Ini Labrak Pemdes Katur

BOJONEGORO. Netpitu.com – Suasana ceria dan dipenuhi kegembiraan warga penerima Bantuan Langsung tunai ( BLT ) di Balai Desa Katur,Kecamatan Gayam, Senin, (11/05/2020), mendadak tegang. Lantaran datangnya seotang warga yang lakukan protes karena tidak mendapat pembagian BLT.

Dengan lantang, Siti Rujidah, seorang ibu rumah tangga warga Dukuh Ngaglek, Desa Katur Kecamatan Gayam, ini memprotes Kepala Desa Katur, di balai desa, karena sebagai warga miskin dan masuk kategori tidak mampu justru tidak mendapatkan jatah pembagian Bantuan Langsung Tunai dari Pemerintah.

“Keluarga saya seharusnya dibantu dan berhak mendapatkan BLT. Tetapi selama ini keluarga kami kenapa tidak pernah didaftar oleh petugas untuk mendapat bantuan apapun. Ini tidak adil. Saya akan laporkan hal ini,” ujar Siyi Rujidah dengan suara lantang.

Mengetahui hal tersebut, tampak istri Kades Katur, Sungkono, berusaha untuk menenangkannya. Istri Kades terlihat menghiburnya dan menjanjikan akan didaftarkan dan pasti mendapat bantuan tersebut. Tapi kapan belum ada kejelasan.

Perlu diketahui bahwa apa yang terjadi dalam pemberian bantuan tersebut, Siti saat ditemui netpitu.com menjelaskan bahwa banyak warga desanya yang mampu mendapat uang Rp 200 ribu.

“Saya tahu salah satunya tadi ada seorang warga Dusun Ngaglik, pak. Dia kan orang mampu punya ternak sapi dan sawah tetapi dia dapat bantuan. Begitu juga dengan lainnya, banyak yang mampu tapi dapat bantuan,” ucapnya dengan nada jengkel.

Membuktikan ucapan Siti Rujidah, Netpitu.com mendatangi rumah kediamannya di RT 06 Dukuh Ngaglik, Desa Katur, Kecamatan Gayam.

Siti Rujidah hidup bersama Agus Supriyanto, suaminya dan 2 orang anaknya.

Dari fakta yang ada, lantai rumah Siti Rujidah tidak berlantai plester rabatan atau tegel. Tapi lantainya masih berupa tanah. Di rumah itupun keluarga Siti Rujidah, masih numpang di rumah orang tuanya yang terbuat dari dinding kayu.

“Yo iki omah lan tanahe yo iseh numpang wong tuo, ( Ya rumah dan tanahnya masih ikut numpang orang tuanya, red)

Suami Siti, Agus Supriyanto, bekerja sebagai buruh di peternakan ayam milik tetangganya. Selain itu, unyuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga Agus juga bekerja sebagai tenaga serabutan.

Humairoh ( perempuan ), anak pertama pasangan Agus S dan Siti Rujidah, menderita cacat tubuh dari sejak lahir. Humairoh menderita cacat lumpuh dan tunawicara (bisu), sehingga ia pun tidak bisa beraktivitas bermain apalagi sekolah.

“Anak yang pertama saya perempuan, dan mengalami cacat sejak lahir. Sedang anak yang kedua adalah laki-laki,” tutur Siti Rujidah.

Sebelum berangkat bekerja membantu suaminya, dikatakan Siti, ia harus mengurus makan anak perempuannya, Humairoh.

“Memberi makan anak wedok (perempuan, red) dengan melembutkan nasinya dengan dikunyah dulu, setelah itu baru disuapkan,” terang Siti Rujidah, samvil mengusap air mata yang menetes mengalir di kedua pipinya.

Mengingat jejadian di balai desa, Siti merasa hak-haknya diabaikan oleh pemerintah desa Katur. Padahal bantuan langsung tunai seperti diamanatkan presiden Jokowi harus diberikan tepat sasaran, yakni warga miskin yang terkena dampak pandemi virus corona.

Karenanya, ia akan menuntut haknya sebagai warga miskin yang berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Dikarakan Siti, keluarganya tidak pernah mempetoleh bantuan apapun dari pemerintah, baik Program Keluarga Harapan (PKH), Jaring Kesejahteraan Nasional ( JKN), Kartu Indonesia Sehat, bahkan Rastra punjuga tidak dapat.

Untuk pembagian Sembak dari Pemkab juga tidak dapat bagian, tutur Siti Rujidah, litih dengan nada memelas.

(met)