Merasa Dikriminalisasi Rudiyah Berteriak Pertanyakan Keadilan (Bag.1)

- Tim

Minggu, 11 Juni 2017 - 20:46

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Netpitu.com – Disaat Institusi penegak hukum, Polri berjuang keras melakukan pembenahan dan perbaikan pelayanan hukum terhadap masyarakat, ada teriakan melengking seorang perempuan yang merasa telah diperlakukan tidak adil oleh pelayanan hukum aparat Kepolisian sebagaimana yang diatur dalam KUHAP.

Begitu halnya dengan Institusi Kejaksaan yang dharapkan dapat tampil sebagai sosok lembaga penuntut  umum dan berdiri tegak dengan gagahnya membela hukum Negara. Malah turut memperparah keadaan dengan bekerja tak profesional.

Bak pepatah “Nasi telah menjadi bubur”, namun keadaan ini bukan untuk disesali. Lebih dari itu, perlu ada evaluasi mendalam. Dan berani menyatakan salah bila salah kemudian dengan serta merta segera memperbaiki kesalahan. Dan memberikan sanksi terhadap aparat yang telah bertindak lancang terhadap peraturan perundangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lantaran yang harus diingat dari pepatah “Nasi menjadi bubur” adalah sarkasme terhadap keadaan yang terjadi atas kelalaian orang yang bertanggung jawab memasak nasinya.

Baca Juga :  Alham M. Ubey :" Selamat New NasDem Bojonegoro "

Akibat kelalaian itulah kini pamor hukum di Bojonegoro telah terluka.

Bagaimana tidak, perempuan dengan nama Rodiyyah, (37) warga Desa Kedungbondo, Kecamatan Balen, Bojonegoro itu, tiba-tba saja dihadapkan pada persoalan hukum dan terancam jadi terpidana.

Padahal sebelumnya, Rodiyyah, pada 23 Desember 2016 lalu telah melaporkan peristiwa tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialaminya.

Ia melaporkan kepada petugas Polsek Kanor, bahwa ia (Rodiyyah) pada 22 Desember 2016, sekitar Pukul 17.45 Wib. telah menerma tindak kekerasan dari suaminya bernama Zainuddin, yang menjabat sebagai Kaur Pemerintahan Desa Cangakan.

Ketika itu, Rodiyyah mendapatkan kekerasan fisik dari Zainudin yang terlihat dalam keadaan kalap. Karena ketakutan dan merasa keselamatannya terancam maka Rodiyyah berusaha sebisa mungkin melawan.

Baca Juga :  Diduga Terlibat Kasus Pencurian Pipa, Kades Kedungrejo Ditahan Polisi

Menurut Rodiyyah, pada saat itu ia ditampar oleh suaminya. Untuk membela diri dia mengangkat kaki dan mengenai suaminya yang berusaha mendekatinya dengan kalap.

Atas perilaku kasar yang membahayakan keselamatan jiwanya inilah kemudian Rodiyyah mendatangi Polsek Kanor untuk tujuan melaporkan peristiwa KDRT yang dialaminya.

Pada awal melapor ke Polsek Kanor, laporan Rodiyyah tidak ditanggapi. Bahkan dengan alasan “masalah intern”, pihak Polsek tidak memberikan surat bukti lapor kepada Rodiyyah bahwa pengaduannya telah diterima.

Tidak hanya itu, permintaan Rodiyyah untuk divisum juga ditolak oleh petugas Polsek Kanor, dengan alasan akan diselesaikan di balai Desa.

Kemudian pada tanggal 24 Desember 2016 Rodiyyah mendapat panggilan lewat telepon dari Kapolsek agar datang pada tanggal 25 Desember 2016  ke Polsek untuk pemeriksaan laporan KDRT serta mengabulkan permintaan visum yang sebelumnya sempat ditolak.

Baca Juga :  Kasus Pengisian Perangkat Hari Ini Polres Gelar Rekontruksi di Prayungan

Selanjutnya untuk memenuhi panggilan Kapolsek Kanor, Rodlyyah dengan ditemani Ainun Naim, datang ke Polsek Kanor. Berdasarkan anjuran dan surat untuk visum dari kepolisian, Rodiyyah melakukan visum di Puskesmas pada tanggal 25 desember 2016. Hasil Visum tersebut kemudian diserahkan ke Polsek Kanor. Kemudian Rodlyyah kembali mendapat panggilan lewat telepon agar datang pada tanggal 27 Desember 2016, dengan membawa materai guna tanda tangan BAP.

Namun anehnya, sesampai di Polsek Kanor, Rodiyyah diminta untuk mediasi, bukan menandatangani BAP seperti yang diutarakan sebelumnya. Selanjutnya Rodiyyah disuruh membuat laporan ulang, karena laporan yang pertama dinilai terlalu bertele-tele.

Kemudian Rodiyyah yang disuruh membuat laporan KDRT tersebut, baru menyerahkan kembali laporanya pada tanggal 4 Januri 2017.

Dirilis oleh : Aliansi Masyarakat Pengawas Keadilan (AMPK)  

Editor : Edy Kuntjoro.

Berita Terkait

Ketua Sarbumusi : Usulan Kenaikan Upah Apindo Tak Hargai Keringat Buruh
Mantan Camat Padangan Kembali Dihadirkan di Persidangan Dugaan Korupsi BKKD
Copras – Capres 2024
Tampil Unik Peserta Lomba Nyanyi Lagu Kenangan Ini Dapat Hadiah Dadakan
Putusan Banding PT Tipikor Surabaya Bebaskan Shodikin Dari Dakwaan Primair JPU
Jual Proyek Fiktif Kades Kanten Dilaporkan Ke Polisi
Anwar Sholeh Serahkan Bukti Tambahan Kasus Dugaan Pemalsuan Data Otentik
Duit BOP TPQ Diduga Mengalir Ke Kantor Kemenag Untuk Ganti Cetak Piagam

Berita Terkait

Selasa, 26 Maret 2024 - 11:09

Kemenag Bojonegoro Pastikan Kegiatan Belajar Mengajar di Madrasah Berjalan Normal

Sabtu, 23 Maret 2024 - 14:00

Kadal Ireng Bagikan 350 Takjil ke Masyarakat

Sabtu, 9 Maret 2024 - 21:31

Rayakan Annyversary ke 75, Persibo Dapat Hadiah Armada Bus Dari Sedulur Pitu

Jumat, 19 Januari 2024 - 11:25

Pengajuan Penetapan Nama Pada Ijazah Muk’awanah Tak Penuhi Norma Hukum Administrasi Kependudukan : Pengadilan Harusnya Menolak

Rabu, 6 Desember 2023 - 12:10

Sunaryo Abuma’in : LABH PPP Layani Pendampingan dan Bantuan Hukum Gratis Pada Masyarakat

Senin, 4 Desember 2023 - 16:43

PPP Maksimalkan Peran Saksi di Setiap TPS

Senin, 4 Desember 2023 - 08:11

Menangkan Pemilu 2024 DPC PPP Masivkan Konsolidasi, Sosialisai ke Kader di Tingkat Kecamatan dan Desa

Jumat, 1 Desember 2023 - 08:54

Jum’at Hari Ini Bawaslu Gelar Sidang Pelanggaran Administrasi Pelaporan Anwar Sholeh

Berita Terbaru

GOODNEWS

Komunitas IRL Jatim Bagikan Takjil di Bojonegoro

Minggu, 31 Mar 2024 - 12:29

BERITA

Kadal Ireng Bagikan 350 Takjil ke Masyarakat

Sabtu, 23 Mar 2024 - 14:00