Bengawan Jonegoro

- Tim

Minggu, 13 Januari 2019 - 19:59

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bengawan Jonegoro -Arieyoko

Bengawan Jonegoro -Arieyoko

Bengawan Jonegoro
Penulis : Arieyoko

Delapan tahun silam, Mei 2010, gagasan menyebut (dan mengganti) nama Bengawan Solo menjadi Bengawan Jonegoro, saya posting. Tanggapan kawan-kawan medsos beragam. Rata-rata kaget lantaran dianggap aneh dan unik.

Tidak aneh sebenarnya, jika lazim menggunakan akal secara ‘out of box’. Mencari alternatif-alternatif anyar, sebagai gagasan segar. Dan, bukankah sebenarnya demikian adanya?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Posisi Bengawan Solo memang beda dibanding (misalnya) Bengawan Brantas, Bengawan Serayu, Bengawan Cisadane, dan seterusnya. Lantaran, penamaan yang lebih universal. Bukan, statis (dan sektoral).

Artinya, nama Bengasan Solo, layaknya jika (hanya) ada dan berada di Solo (Surakarta) semata. Lantas, tatkala telah menghilir ke Sragen, Madiun, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik. Mustinya dilakukan metamorfosa menjadi Bengawan ‘setempat’.

Baca Juga :  Ketika Anarkisme Menari di Gedung Pemkab

Apakah boleh disebut sebagai Bengawan Kalitidu (Kecataman). Atawa Bengawan Sale (Desa), atawa nama-nama Dusun yang lainnya ? Bagi pola pikir usang, yang stagnan, yang bermuara (semata) proyek, itu (pasti) disalahkan. Tidak boleh.

Namun, cara berfikir semacam itu, mencerminkan gaya lawas. Tidak lagi cocok di era milinea ini. Sebab, tak ada gairah anyar tentang nasionalisme, tentang kebanggaan pada daerah/wilayah sendiri, tentang kemandirian masyarakat dan pembangunannya.

Sama halnya penyebutan ‘Jonegoro’, disebut sebagai penamaan yang kliru dan salah. Tersebab dalam baku sastra, parama sastra, dikatakan yang benar adalah, ‘Bojonegaran’.

Baca Juga :  Copras - Capres 2024

Inilah benturan kultural, yang masih ‘inbox’ dan yang telah ‘out box’. Budaya tersebut masih kencang, kuat, dan tragis di Kabupaten Bojonegoro. Baik dalam fokus pembangunan infrastruktur, ekonomi, stabilitas, sosial, politik, kesehatan, pendidikan, dan seterusnya.

Padahal, wong-wong ndesa Bojonegoro, sejak zaman kuna, menyebutinya sebagai Jonegoro. Sebagai kata ganti “lunga kutha’, jika hendak bepergian ke kota.

So, ada keengganan untuk menampung, menangkap kehendak, menyalurkan hasrat murni, rakyat Bojonegoro sendiri. Dengan aneka pembenar, yang alih-alih hanya sekadar membatasi hak-hak berdemokrasi.

Akibatnya, tak aneh jika Jonegoro makin kalah jauh dengan Tuban dan Lamongan. Kalah telak.
Sepanjang masih berkutat dengan alur pikir lawas dan salah pikir, seterusnya tetap puritan seluruh sektor pembangunan di kabupaten yang memiliki PAD 3,7 trilyun (2018) dan melonjak menjadi 4,6 triyun pada 2019 ini.

Baca Juga :  Blusukan Ke Hutan, Adm. Jatirogo Inginkan Sukses Produksi Tanaman

Mbakyu Bupati dan Mas Wakil Bupati Bojonegoro yang baru, bisa kok melakukan revolusi mental atas kinerja jajarannya. Tentu, dibutuhkan budayawan yang mintihir untuk bersama-sama melakukan pembaruan-pembaruan : itu.

Agar mencuat semangat ‘handarbeni’ yang baru. Atas tanah kelahiran tercinta Bojonegoro : ini. Bullshit bicara internasional dan globalisasi, jika tidak membumi dan mencintai tanahnya sendiri, terlebih dulu. Dan, inilah power sejatinya wong Jonegoro.

Arieyoko
2019

Berita Terkait

Copras – Capres 2024
” Bupati Kalah Polling Camate Sing Podo Bingung “
Gimmick Foolitik 2024: “Ribut Pdip & Koalisi Semut Merah”.
Pers Pencasila dan Jurnalisme Patriotik
Blusukan Ke Hutan, Adm. Jatirogo Inginkan Sukses Produksi Tanaman
Tinjau Realisasi JLS dan MPP, Wabup Pastikan Proyek Berjalan Lancar
Pilkades : Pilih Pemimpin Atau Pejabat
Ketika Anarkisme Menari di Gedung Pemkab