oleh

Haul ke 7 KH. Masyhudi Hasan dan Keteladanan Sang Kiai

Netizensatu.com – Siapa yang tak kenal dengan KH. Masyhudi Hasan, sang pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Falah, Desa Pacul, Kecamatan/ Kabupaten Bojonegoro ?. Sosok kiai dengan segala kesederhanaannya namun penuh kharisma. Kesabaran dan keikhlasannya dalam mendidik santri telah membuahkan hasil santriwan dan santriwati yang tangguh dalam berjuang mengarungi perkehidupan modern.

Kiai yang cukup dikenal dengan kerendahan hatinya ini, pernah menjadi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, Bojonegoro dan juga pengurus Majelis Ulama Indonesoa Kabupaten Bojonegoro, dalam beberapa periode.

Sang kiai yang dikenal gigih dalam belajar menuntut ilmu agama in adalah putra ketiga dari pasangan kiai Hasan dan bu yai Marfuah, lahir di Bojonegoro, pada 1932 dan meninggal pada usia 78 tahun ( 30 Junil 2010 atau 17 Rajab 1431 H ).

Sedangkan sang ayah merupakan kiai ndeso yang juga guru ngaji Al-Quran masyarakat kampung sekitar. Meski hanya berupa Padepokan, pada 1930 kiai Hasan sudah memiliki banyak santri yang berasal dari luar daerah. Seperti; Jogja, Magelang, Cilacap dan Nganjuk.

Berbekal ajaran sang ayah tentang ilmu agama, kiai Masyhudi Hasan pun juga nyantri KH. Abu Dzarrin, Kendal, untuk menuntaskan ilmu nahwu dan shorof sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Kemudian beliau juga melanjutkan nyantrinya di Pondok Pesantren AL Islah, Lasem, Rembang, di bawah asuhan Syeh Masduqi.

Dalam menuntut dan memperdalam ilmu agama KH. Masyhudi Hasan tak cukup berhenti disitu. Beliau juga belajar ilmu hadits dengan hatam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim kepada Kiai Hasan Asy’ari Poncol Bringin Salatiga. Selain itu juga mengkhatamkan Kitab Ihya Ulumuddin pada Kiai A.Siddiq, Senori, Tuban.

Hari ini, 14 April 2017, adalah genap tujuh tahun wafatnya beliau, setelah sebelumnya menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit di Bojonegoro.

Kini Pondok Pesantren AL Falah yang didirikan pada 1978 dan para santri yang pernah diasuhnya menjadi saksi bagaimana keluhuran aklhaq, kesabaran, keikhlasan dan kemurahan hati sang kiai Masyhudi Hasan yang sejak 1968 sudah mulai mengajar santri-santri dari Desa Pacul sendiri.

Ditulis oleh Muhajir