oleh

Harga Tembakau Bojonegoro Melonjak Selangit

BOJONEGORO. Netpitu.com – Kemarau tahun ini menjadi berkah tersendiri bagi petani tembakau Bojonegoro. Hingga minggu kedua September ini masa panen tembakau baru memasuki panen petikan daun ketiga, dengan harga jual rajangan di tingkat petani Rp 25.000 hingga Rp Rp 35.000,- per kilo gram. Sedangkan untuk harga jual daun tembakau sendiri berkisar Rp 3000 hingga Rp 4.500,-per kilo gramnya.

Rofik, petani Dusun Tulung, Desa Karangan, Kecamaan Kepohbaru, mengatakan bahwa harga tembakau tahun ini memang cukup tinggi. Hal tersebut dikarenakan terbatasnya luas area tanaman tembakau di lapangan dan kualitas panen daun tembakau juga sangat bagus (prima).

Pasalnya, bagi petani menanam tembakau merupakan tindakan spekulatif yang tidak dapat ditebak kepastian hasil keuntungannya. Sehingga jangan heran jika sekarang banyak petani yang membiarkan lahan sawahnya bero ( tidak ditanami ).

Terlebih saat masa tanam tembakau dimulai pada Mei – Juni lalu sawah mereka masih dalam keadaan ditanami padi sehingga tidak memungkinkan menanam tembakau. Kalaupun terpaksa menanam tembakau maka penanaman bibit tembakau dilakukan pada Juli – Agustus.

Bagi petani Bojonegro tahun ini merupakan masa panen panen terbaik, dipastikan harga jual tembakau hingga memasuki akhir panen nanti akan tetap stabil dengan harga tinggi. Diperkirakan dipuncak panen nanti harga tembakau petani bisa mencapai Rp 80.000 hingga Rp 90.000,- per kilo gram tembakau rajangan dengan kualitas prima ( sangat baik ), biasanya di pabrikan Gudang garam akan ditandai dengan kualitas pentol 4 + (oooo+).

Puncak panen tembakau Bojonegoro sendiri diperkirakan akan terjadi pada awal Oktober mendatang.

Meski harga pembelian tembakau di tingkat pabrikan rokok tinggi namun jangan harap keuntungan itu bisa dinikmati oleh petani sepenuhnya. Lantaran tembakau petani rata-rata dibeli oleh para tengkulak tembakau yang saat ini sudah banyak berkeliling ke Desa-desa untuk membeli tembakau lansung pada petani.

Selain itu, para pengusaha penyelia tembakau yang dipercaya pabrikan rokok pun juga akan mencoba mengendalikan keuntungan harga di tingkat petani. Biasanya para penyelia ini juga diberikan tanggung jawab pabrikan untuk melakukan kerja sama dengan petani dalam hal pengadaan tanaman tembakau.

Namun sayang, harga yang diberikan kepada petani hanyalah harga sekedar untung. Sehingga ketika harga tembakau di pabrikan maupun di pasaran bebas melonjak tinggi, harga petani yang biasa disebut dengan program kemitraan ini keuntungannya dipatok maksimal tak lebih dari 20 persen.

Seorang pengusaha tembakau di Sugihwaras menyebutkan tingginya harga tembakau Bojonegoro tahun ini sudah diperkirakan sebelumnya. Lantaran musim kemarau yang mendukung dan terbatasnya tanaman tembakau yang diusahakan petani.

Ia pun cukup kelabakan dengan harga tembakau rajangan yang sudah dipatok petani dengan nilai cukup tinggi.

(Edk)