oleh

Penonton Lomba Oklik Berjubel, Salah Siapa ?

Catatan Redaksi.

Lomba Oklik yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bojonegoro, di pendopo Pemkab Bojonegoro, Minggu, (13/09/2020), dipenuhi penonton.

Jumlah penonton yang membludak membuat kapasitas pendopo tak mampu menampung kehadiran ratusan masyarakat yang ingin menyaksikan lomba Oklik. Tak ayal, penonton pun berjubel, berdesakan, tak lagi menghiraukan batas jarak antar orang. Satgas penanganan Covid19 dan panitia pun kelabakan.

Sebenarnya ini salah siapa ?. Panitia penyelenggara lomba Oklik ( Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Bojonegoro ), Satgas Covid19 Bojonegoro atau masyarakat penonton Oklik.

Terlepas dari siapa yang mesti bertanggungjawab atas kerumunan orang tersebut. Harusnya pihak panitia sudah mengantisipasinya melalui simulasi kegiatan. Dengan mengambil beberapa opsi tempat penyelenggaraan lomba. Di ruang terbuka atau di tuang tertutup.

Pendopo Kabupaten bisa dikategorikan sebagai ruang terbuka terbatas. Terbatas pada gedung pendopo. Berapa jumlah orang ( peserta yang hadir ), juri, petugas pengamanan dapat dihitung pasti. Selebihnya ditambah masyarakat yang hadir sebagai penonton.

Sebagai tontonan gratis, jenis lomba ini cenderung menarik perhatian masyarakat untuk hadir. Setidaknya, tanpa promosi saja, satu anggota peserta lomba akan membawa sedikitnya dua hingga lima orang penonton yang datang sebagai pendukung.

Jika satu kelompok Oklik terdapat 7 – 10 anggota, maka sedikitnya satu kelompok berpotensi menghadirkan 50 orang penonton. Padahal, pada lomba Oklik tersebut diikuti 20 kelompok. Bisa dibayangkan berapa potensi penonton yang akan hadir dalam acara lomba tersebut, bisa 800 – 1.000 orang penonton.

Inilah kesalahan fatal panitia lomba yang tidak memperhitungkan membludaknya jumlah penonton. Sehingga areal pendopo pun tidak mampu menampung jumlah penonton yang hadir diluar perkiraan.

Atas kejadian ini, bupati sebagai kepala daerah harus berani menegur kelalaian panitia lomba Oklik yang tidak memiliki kajian keamanan pencegahan penularan virus corona.

Harusnya panitia memperhitungkan situasi pandemi Covid19 di Kecamatan kota Bojonegoro secara khusus, dan seluruh kecamatan di Bojonegoro umumnya. Sejauh manakah ancaman penularan virus corona akan terjadi dan bagaimanakan cara pencegahannya apabila lomba tersebut dilaksanakan.

Siapa yang bisa menjamin peserta dan penonton yang hadir di tempat pertunjukkan tersebut tidak ada yang terjangkit virus corona ?. Berawal dari pertanyaan inilah seharusnya panitia mengambil langkah secara bijak dan tepat.

Pada masa pandemi corona ini, kegiatan secara daring lebih bisa menjamin pencegahan terjadinya penularan virus dibanding dengan luring.

Seharusnya Disparbud Bojonegoro belajar dari konstelasi lomba-lomba yang digelar oleh Dinas Pendidikan. Dimana seluruh kegiatan pembelajaran pendidikan maupun lomba dilakukan dengan cara daring. Toh tujuan rekreatif, hiburan, seleksi penilaian lomba pun terwujudkan tanpa harus memakan korban penularan.

Sebagai gambaran, data kasus konfirmasi Covid19 di Bojonegoro hingga tanggal 12 Sepetember 2020 kemarin, telah mencapiai 387 kasus. Dengan rincian 296 orang sembuh, dan 43 orang meninggal dunia.

Dari perkembangan data harian, nampak jelas nyaris tiada hari tanpa penambahan jasus konfirmasi corona, artinya virus ini masih ada dan berkembang di tangah-tengah masyarakat.

Dari jumah kumulatif 387 orang yang terjangkit corona, 48 orang diantaranya masih menjalani perawatan. Sedangkan untuk kasus Covid 19, Kecamatan Bojonegoro menjadi wilayah paling tinggi yang warganya terjangkit virus corona, dengan jumlah 15 orang dan 15 orang lainnya dalam kondisi suspect. Disusul Kecamatan Baureno, dengan jumlah kasus konfirmasi 9 orang, dan suspect 5 orang.

Fakta data pasien Covid Kabupaten Bojobegoro sebesar 30 persen lebih adalah warga yang tinggal dan bermukim di wilayah Kecamatan Bojonegoro, hendaknya hal ini dijadikan acuan pengambilan keputusan. Apakah kegiaran lomba digelar secara daring atau luring.

Mengingat setiap hari nyaris ada warga Kecamatan Bojonegoro yang terjangkit corona, sudah selayaknya kegiatan lomba digelar secara daring, bukannya dilaksanakan di tempat terbuka terbatas dengan jumlah penonton yang tidak terbatas.

Semoga membludaknya penonton di lomba Oklik di pendopo Pemkab ini tak memberikan dampak penyebaran virus covid yang dahsyat. Semoga semua penonton yang telah hadir berjubel selamat dan tetap sehat, serta tidak menjadikan kluster baru sumber penularan.

Tetapi jika nantinya setelah dua minggu penyelenggaraan lomba Oklik ini terdapat penonton lomba banyak yang terjangkit Covid19, panitianya harus dimintai tanggungjawab. Baik itu tanggungjawab sosial, hukum dan kedinasan.

Editorial :
Oleh Edy Kuntjoro, Pimpinan Redaksi Netpitu.com