oleh

Nasib Suyoto, Pasien Yang Gagal Mendapatkan Pelayanan Puskesmas Dander

BOJONEGORO. Netpitu.com
Geger informasi soal warga Desa Dander, Kec. Dander, Bojonegoro, bernama Suyoto, yang meninggal dunia gara-gara diduga ditolak saat memeriksakan diri ke Puskesmas Dander. Sehingga Suyoto tidak mendapatkan pelayanan kesehatan seperti yang diinginkan, dan akhirnya seminggu kemudian meninggal dunia.

Persoalan teryata tidak berhenti disitu. Lantaran setelah Suyoto meninggal sebagaian warga ada yang menginginkan agar pemakamam jenazah Suyoto menggunakan protokol penanganan jenazah Covid,-19. Tapi banyak juga yang membantah jika Suyoto meninggal karena terinfeksi Covid19.

Setelah melalui berbagai macam pertimbangan dan musyawarah akhirnya jasad Suyoto dimakamkan dengan cara biasa atau tidak dengan protokoler Covid19.

Lantas bagaimana dengan adanya informasi penolakan pihak Puskesmas Dander ?.

Kepala Desa Dander, Kec. Dander, Bojonegoro, Jupri, yang dihubungi netpiti.com menjelaskan bahwa Suyoto pada Sabtu, (06/06/2020) lalu, menderita sakit dan pada sekitar pukul 15.00 – 16.00 Wib. datang ke Puskesmas Dander untuk berobat.

Namun setelah sampai di Puskesmas dan bertemu dengan petugas kesehatan yang berjaga, Suyoto disuruh pulang dan diminta untuk kembali lagi ke Puskesmas pada Senin, (08/06/2020), alasannya karena dokter yang menangani pemeriksaan pasien tidak ada di Puskesmas, atau sudah pulang.

Kemudian pada Senin (08/06/2020), Suyoto, seperti diceritakan Jupri, tidak datang ke Puskesmas. Tetapi Suyoto memilih berobat ke mantri Wawan.

“Katanya ada penyakit jantung, diabetes dan Asam urat yang cukup tinggi. Lantas Suyoto pun diberi obat oleh mantri Wawan obat yang berhubungan dengan penyakitnya,” terang Jupri, kepada netpitu.com, Senin, (15/06/2020).

Karena setelah dari mantri tidak kunjung sembuh lantas Suyoto berobat ke klinik DMC Dander. Dari klinik DMC disebutkan Jupri, diagnosa dokternya juga sama, Suyoto sakit Jantung, diabetes dan asam urat.

Masih juga tak sembuh, akhirnya ajal pun datang, Suyoto, pada Minggu, (14/06/2030), sekitar pukul 17.00 lebih meninggal dunia.

Kalau sudah , dokter Pmeninggal, siapa mau disalahkan Puskesmas yang tidak on time setiap saat di Puskesmas atau Suyoto yang tidak mau datang lagi ke Puskesmas pada hari berikutnya.

“Suyoto meninggal menjelang Magrib, saya juga ikut datang melayat,” ujar Jupri.

Jupri, Kades Dander ini pun berpendapat kemungkinan jika saat itu dokter Puskesmas ada di tempat atau Suyoto mau datang lagi ke Puskesmas sesuai saran petugasnya saat itu, mungkin Suyoto lebih bisa mendapatkan perawatan yang intensif. Tapi, lagi-lagi sayangnya, kata Jupri, Puskesmas Dander belum memiliki fasilitas kesehatan untuk pasien rawat inap.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Dander, dr. Widi, yang dihubungi netpitu melalui pesan Whatsaapnya terkait informasi penolakan pasien Suyoto tersebut, hingga berita ini ditulis belum memberikan jawaban.

Menurut pihak keluarga, Suyoto (55). menderita penyakit sesak nafas. Warga Rt 24/03 Desa Dander ini meninggal dunia, setelah diduga ditolak oleh pihak Puskesmas Kecamatan Dander dan tidak mendapatkan pelayanan kesehatan semestinya, oleh pihak puskesmas setempat.

Ironisnya lagi, pasien harus pulang kerumah dengan penyakit yang dideritanya.

Pihak keluarga Suyoto kini hanya berharap, kedepan pelayanan Puskesmas lebih bisa dibenahi lagi agar bisa memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat dengan maksimal.

(met/vie)