oleh

Pilkada Tuban “Pertarungan 2 Raja”

Opini : Pilkada Tuban Pertarungan 2 Raja

Penulis : Edy Kuntjoro*

Pemilihan Kepada daerah ( Pilkada ) Kabupaten Tuban 2020 akan mencatat sejarah tersendiri bagi perpolitikan di kota kelahiran Ronggolawe ini.

Semula diperkirakan ada 4 calon pasangan bupati dan wakil bupati yang akan bertarung memperebutkan tahta jabatan pimpinan tettinggi di Kabupaten Tuban. Namun dari perkembangan politik terakhir dimungkinkan hanya akan ada 3 pasangan calon.

Satu pasangan calon peserta sudah memastikan diri mendapat rekomendasi dukungan partai untuk bisa mendaftar di Komisi Pemilihan Umum Kab. Tuban, yaitu pasangan colon bupati dan wakil bupati, Aditya Halindra Faridzki – Riyadi, yang diusung oleh partai Golongan karya ( 9 kursi ) dan partai Demokrat ( 5 ).

Pasangan calon selanjutnya adalah Setiajit yang berpasangan dengan Armaya. Keduanya diusung dari PDIP, PPP, Hanura, PBB dan PAN, dengan total dukungan 12 kursi dewan.

Sementara itu Partai Kebangkitan Bangsa yang memiliki 16 kursi di DPRD Tuban, memastikan diri mengusung pasangan calon kepala daerah tanpa membutuhkan dukungan dari partai lain. Dari 2 bakal calon bupati yang bersaing mendapatkan rekimendasi dari PKB adalah Khosanah, anggota DPRD Provinsi Jawa timur, dan sang putra bupati Tuban H. Fathul Huda, yakni, Fredy Ardliyan Syah.

Bahkan bisa jadi pula keduanya bakal menjadi satu pasangan calon yang diusung PKB dalam Pilkada Tuban 2020 ini. Jika PKB nekad meninggalkan Fredy dan memilih Khosanah sebagai calon bupati dengan mengambil calon wakil bupati yang lain ( bukan Fredy ). Maka peluang Khosanah menang sangat kecil.

 

Sedangkan bakal calon pasangan bupati dan wakil bupati, Eko Wahyudi – Agus Maimun, yang sebelumnya telah mengantongi dukungan dari partai Gerindra, Nasdem dan PAN,, harus gigit jari.

Lantaran PAN, sebagai salah satu partai pendukungnya mengalihkan dukungan ke pasangan Setiajid dan Armaya. Dengan hilangnya PAN, syarat pencalonan suara dukungan 20 persen kursi DPRD menjadi berkurang dan tak memenuhi syarat.

Lantas bagaimanakah nasib pasangan Eko Wahyudi – Agus Maimun ?.

Pertarungan 2 Raja.

Bergejolaknya suhu politik Pilkada Tuban semata-mata hanyalah buah dari permainan adu strategi pemenangan dalam merontokan kekuatan lawan. Paling tidak, salah satu kubu pasangan calon tidak mau basis masanya terganggu dengan munculnya calon ke 4.

Alasannya, jika ada 4 pasangan calon maka peluang untuk menang akan mudah didapat oleh pasangan calon yang didukung partai dengan kursi terbanyak di DPRD Tuban.

Maka, satu-satunya cara untuk merebut kemengan atau setidaknya menjadikan posisi kekuatan jumlah pemilih berimbang, harus men”delete” atau menghilangkan salah satu pasangan calon. Sehingga praktis mau tak mau, hanya muncul 3 pasangan calon.

Berapapun calon bupati dan wakil bupati yang turut ambil bagian dalam konteslasi politik lima tahunan ini, pertarungan sengitnya akan terjadi pada dua kubu. Yakni kubu putra Fathul Huda, bupati Tuban periode 2010 – 2015 hingga tahun sekarang ini (2020), dan kubu Halindra, putra bupati Tuban 2000 – 2005 – 2010, Haeny Relawati Rini Widastuti.

Inilah pertarungan 2 raja, yang masing-masing memiliki basis masa kuat di akar rumput.

Bagi kubu Fathul Huda, memenangkan pertarungan Pilkada 2020 merupakan hal mudah jika ada 4 pasangan calon. Apalagi basis suara nahdliyin dan santri cenderung untuk berpihak ke Fathul Huda. Namun dengan hadirnya 3 pasangan calon, peluang menang menjadi menipis.

Sedangkan bagi kubu Haeny Relawati, dengan berpindahnya dukungan PAN ke pasangan calon Setiajit – Armaya, memberikan keuntungan politik yang besar. Lantaran dengan demikian Pilkada Tuban hanya akan diikuti 3 pasangan calon.

Pasangan Setiajit dan Armaya, bukanlah lawan berat yang harus diperhitungkan oleh 2 pasangan calon lainnya. Meski memperoleh dukungan dari PDIP, balum tentu mereka berdua bakal dipilih oleh pendukung PDIP. Lantaran keduanya bukanlah kader yang lahir dari rahim PDIP.

Begitu juga dengan masa pendukung PAN dan Hanura. Karena masa di kedua partai memiliki sejarah kekerabatan dengan partai Golkar. Sangat dimungkinkan masa pebdukung partai ini bakal mengalihkan dukungan ke pasangan calon yang diusung Golkar.

Hal yang sama kemungkinan besar juga akan dilakukan oleh masa pendukung partai Nasdem, Gerindra.

Di sisi lain, pengamatan di akar rumput. Rakyat mulai kangen dengan masa kepemimpinan bupati Haeny Relawati Rini Widastuti, yang berhasil memikat hati rakyat dengan pembangunan jalan aspal hingga ke pelosok desa.

Bagi warga masyarakat Tuban nama Haeny dikenal melekat dalam hati. Tapi anggota DPR RI ini tak lagi bisa mencalonkan bupati karena sudah 2 kali jadi.

Karenanya bagi nasyarakat Tuban, ” tak ada Haeny, anaknya pun jadi “.

*Penulis Pimpinan Redaksi netpitu.com.