oleh

LSM Angling Dharmo Dorong DPRD Gunakan Hak Interpelasi

-BERITA-35 views

BOJONEGORO. Netpitu.com – LSM Angling dharmo mendorong DPRD Bojonegoro berani mengambil langkah taktis dan tegas dalam menyelesaikan konflik pemindahan pedagang pasar kota Bojonegoro. Sehingga tidak berlarut dan merugikan masyarakat.

“Jangan dikira kalau pedagang pasar berunjukrasa masyarakat tidak dirugikan. Dampak unjuk rasa juga dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan kebutuhan barang yang adanya hanya dijual di pasar. Kalau pedagang demo, lapak kiosnya ditutup dan kebutuhan masyarakat tak terlayani,” papar ketua LSM Angling dharmo, M. Nasir.

Menggunakan hak interpelasi oleh dewan, menurut Nasir merupakan langkah tepat agar persoalan cepat selesai dan tidak bertele-tele.

Terlebih, jika dalam pemindahan pedagang pasar kota tersebut ada sesuatu yang masih mengganjal. Seperti masa kepemilikan kios, lapak, masih dalam masa berjalan dan belum jatuh tempo. Karena jika hal tersebut dipaksakan maka ada potensi gugatan dan laporan hukum yang mengarah ke Pemkab Bojonegoro.

Lebih lanjut dikatakan Nasir, pada awal pemerintahan bupati Anna Muawanah, pernah diwacanakan adanya rencana revitalisasi pasar kota. Gedung pasar yang yang dianggap kumuh dan tidak layak itu akan dibangun.

Agar aktivitas perdagangan pasar tradisional tersebut tetap bisa melayani kebutuhan masyarakat, pedagangnya dipindahkan di tempat penampungan sementara.

Dari sinilah persoalan itu berawal, kata Nasir. Lantaran lokasi tempat penampungan sementara pedagang pasar yang dikehendaki Pemkab belum tersedia.

“Semula Pemkab ingin menyewa tanah kas desa Ngampel yang ada di jalan Pemuda, tapi oleh Pemdes Ngampel rencana itu ditolak. Alasannya, lokasi yang dikehendaki Pemkab tersebut juga akan digunakan untuk membangun,” tambah Nasir.

Selanjutnya, untuk menyiapkan lokasi penampungan sementara pedagang pasar kota, Pemkab mulai mengurug tanah yang ada di selatan pasar hewan Banjarejo. Namun dalam perkembangannya rencana pembuaran tempat penampungan sementara pedagang pasar itu berubah menjadi membangun pasar wisata.

Ada keanehan dan keganjilan jika pedagang pasar kota itu diminta pindah untuk menempati pasar baru yang disebut sebagai pasar wisata. Lantaran dari awal tidak ada rencana memindahkan lokasi pasar kota beserta pedagangnya ke tempat yang baru. Yang ada hanyalah membangun kembali pasar kota di titik lokasi yang sama.

“Jika dipaksakan ini berbahaya, karena membangun pasar itu tidak mudah. Tidak sembarang tempat bisa dijadikan pasar. Pasalnya, ada syarat dan unsur tertentu yang harus terpenuhi,” kata Nasir, menandaskan. Jika tidak maka pasar akan sepi dan tidak ada pembeli yang datang. Karena pada dasarnya tempat itu bukan pasar.

Kata Nasir, pasar tradisional itu sakral dan indentik dengan magis, mistik, religi, mitos, dan ilmu pengetahuan yang menyatu menjadi unsur terciptanya sebuah tradisi.


( ro )

Baca Juga :  Kades Prangi Akui Tak Pernah Berikan Uang Pada Wartawan

Komentar

1 komentar

  1. Warga Bojonegoro tidak akan pusing untuk belanja walau pasar kota dipindahkan, karena masih banyak pasar yang ada disekitaran kota Bojonegoro ada pasar Sukorejo, pasar Banjarjo, pasar Ngumpakdakem dll

Komentar ditutup.