Kejaksaan Bojonegoro Eksekusi Paksa Andreas, Terpidana Korupsi DPM LUEP

- Team

Kamis, 16 Mei 2019 - 13:39

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Terpidan kasus korupsi DPM LUEP, mantan kepala Kantor Ketahanan Pangan Bojonegoro, Andreas Wahyono, dieksekusi paksa Kejajsaan negeri Bojonegoro. Setelah putusan incrach Andreas langsung ditahan di Lapas kelas ll A Bojonegoro. Kamis (16/5/2019).

Terpidan kasus korupsi DPM LUEP, mantan kepala Kantor Ketahanan Pangan Bojonegoro, Andreas Wahyono, dieksekusi paksa Kejajsaan negeri Bojonegoro. Setelah putusan incrach Andreas langsung ditahan di Lapas kelas ll A Bojonegoro. Kamis (16/5/2019).

BOJONEGORO. Netpitu.com – Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro menangkap paksa terpidana korupsi kasus kredit ketahanan pangan, Andreas Wahyono. Selanjutnya Andreas langsung dijebloskan di Rutan Kelas llA Bojonegoro.

Andreas ditangkap setelah sebelumnya dua kali mangkir dalam pemanggilan eksekusi putusan kasasi Mahkah Agung.

Dikatakan Kasi Pidsus Kejaksaan negeri Bojonegoro, Achmad Fauzan, setelah turunnya putusan kasasi Mahkamah Agung yang diajukan oleh penuntut umum Kejaksaan Bojonegoro,. Pihak Kejaksaan telah mengirimkan surat panggilan eksekusi ke Andreas sebanyak 2 kali. Namun yang bersangkutan tidak hadir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk panggilan eksekusi ketiga, pemanggilannya sudah bersifat paksa. Jadi terpidana kasus DPM LUEP tersebut dipanggil dan dieksekusi paksa. Saat eksekusi paksa dilakukan oleh petugas Kejari Bojonegoro, tidak ada perlawanan dari Andreas.

Baca Juga :  Hina Wartawan Di Medsos, Laskur Diperiksa Polisi

Pemanggilan eksekusi yang pertama, kata Fauzan, dilakukan pada tanggal 2 Mei dan 9 Mei, dan panggilan ekskudi paksa dilakukan pada hati ini (16/52019).

Menurut Kasi Pidsus, mantan Kepala Ketahanan Pangan Andreas, tersebut terjerat kasus dugaan korupsi Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM LUEP) tahun 2007.

Dana DPM LUEP pada tahun 2007 senilai total Rp 4 miliar itu dikucurkan pada belasan pengusaha gabah di Bojonegoro. Tetapi, proses pengucuran dana itu tidak melalui proses verifikasi yang memadai. Sebab, banyak pengusaha penerima dana itu yang memberikan agunan di bawah nilai pinjaman.

Baca Juga :  Nama Kantor Staf Presiden Dicatut Untuk Kuasai Tanah Hutan

Dana bergulir DPM LUEP itu akhirnya macet di tengah jalan. Dana yang tidak kembali mencapai Rp1,1 miliar. Banyak pengusaha gabah yang tidak membayar angsuran dengan alasan yang tidak jelas.

Alhasil, Kepala Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur Tadjudin Taher dan mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan Bojonegoro Andreas Wahyono ditetapkan sebagai tersangka karena dana tersebut dikucurkan diduga melayahi aturan yang ada.

Baca Juga :  Dua Orang Warga Kanor Diamankan Polisi

Andreas sebelumnya telah divonis pidana oenjara selama 1 tahun 3 bulan oleh pengadilan tipikor Surabaya, di pengadilan tinggi Jawa timur. Namun setelah penuntut umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, majelis hakim MA menjayuhkan vonis hukuman yang lebih berat kepada Andreas Wahyono, menjadi 4 tahun penjara.

Selain itu, Andreas juga diwajibkan membayar denda Rp. 200 juta jika tidak tidak dibayar harus diganti dengan pidana kurungan penjara selama 6 bulan. Ditambah lagi, Andreas harus membayar pidana tambahan berupa uang pengganti sebesar Rp 16.250.000,-.

(dan)

Berita Terkait

Kejaksaan Bojonegoro Tahan 4 Kades Tersangka Korupsi BKKD Nek Kecamatan Padangan
Dugaan Korupsi Praoto Siaga, Kejaksaan Bojonegoro Ijek Mumet Goleki Tersangka Utama
Bebani Masyarakat, Sarbumusi Bojonegoro Tolak Tapera
Ketua Sarbumusi : Usulan Kenaikan Upah Apindo Tak Hargai Keringat Buruh
Mantan Camat Padangan Kembali Dihadirkan di Persidangan Dugaan Korupsi BKKD
Putusan Banding PT Tipikor Surabaya Bebaskan Shodikin Dari Dakwaan Primair JPU
Jual Proyek Fiktif Kades Kanten Dilaporkan Ke Polisi
Anwar Sholeh Serahkan Bukti Tambahan Kasus Dugaan Pemalsuan Data Otentik