oleh

Inilah Kisah Menegangkan Saat Presiden Soeharto Berada Di Tengah Wilayah Konflik Bosnia

-BERITA-82 views

Mungkin tidak banyak yang tahu, siapakah sosok pria yang menjadi pengawal Presiden RI Ke 2, Soeharto, dan menemani dalam setiap kunjungan ke luar negeri dan dalam negeri. Ia adalah Mayjen ( Purn) Unggul Kawistoro Yudhoyono yang memiliki tugas khusus dalam pengawalan pribadi Presiden Suharto.

Dijumpai di rumah kediamannya di Komplek PATI TNI AD, Bulak Rantai, Jakarta timur, dengan penampilan santai dan sederhana, pria yang sekarang ini menjabat ketua PKP POMAD, Mayor Jendral (purn) Unggul K. Yudhoyono, mengajak netpitu.com ngobrol santai mengenang masa tugasnya saat menjadi pengawal pribadi Presiden Soeharto.

Saat itu, beliau ( Mayjend. Purnwirawan Unggul K. Yudhoyono ) masih berpangkat Kapten. Ia bersama Tim pengawal presiden selalu menjadi pagar betis untuk kepala negara yang kunjungan ke wilayah konflik.

“Pada saat itu, saya sebagai Dandenwal pribadi pak Harto, Presiden Republik Indonesia, dan sejarah telah mencatatnya,” Mayjend. (Purn) Unngul K. Yudhoyono, memulai ceritanya.

” Jangan sekali kali melupakan sejarah” tutur Mayjend ( Purn) Unggul K. Yudhoyono.

Saat itu, lanjutnya, kawasan bekas Yugoslavia itu dilanda perang saudara yang melibatkan pasukan Serbia-Kroasia dan Serbia-Bosnia. Dan kedua belah pihak kemudian mengerahkan seluruh kekuatan militernya termasuk persenjataan berat.

Pada masa itu, dikawasan Balkan telah berubah menjadi ladang pembantaian. Bahkan sebuah pesawat milik PBB yang melintas di Bosnia pun menjadi sasaran dan ditembak jatuh pada 11 Maret 1995.

Baca Juga :  Lama Tak Mendapat Jawaban Dari Gubernur, Anwar Sholeh Lapor Ke Ombudsman

Situasi yang tak menentu ditengah kecamuk konflik para pihak yang berseteru, membuat Presiden Soeharto jengah.

Apalagi Indonesia ketika itu sebagai ketua Gerakan Non Blok – GNB. Demi kemanusiaan, dia bersegera mendatangi wilayah yang paling banyak mendera korban rakyat sipil, khususnya masyarakat Muslim Bosnia.

“Pada masa itu saya memakai Rompi dan kita tiger dengan Rompi anti peluru milik rekan yang lain spesial Rompi tempur” tuturnya .

Bahkan ketika itu Sjafri Sjamsoedin kemudian diminta untuk nyangking (menenteng) helm dan rompi anti peluru itu bersama Mayjend. ( Purn) Unggul K Yudhoyono yang kala itu menjadi Tim Pengawalan pribadi kepala Negara.

13 Maret 1995, Presiden Soeharto bersama rombongan datang ke Sarajevo, ibu kota Bosnia, untuk menemui pemimpin Bosnia Alija Izetbegovic, tanpa jaminan keamanan dari NATO dan PBB.

Bahkan semua rombongan diminta menandatangani surat perjanjian bahwa keselamatan mereka tidak ada yang menjamin. Para tamu negara yang datang ke Bosnia, pihak PBB tidak bisa memberikan jaminan maka para tamu di atas pesawat seluruhnya diminta membuat surat pernyataan.

Baca Juga :  Kasus Korupsi BOP Kemenag Mencuat Dari Surat Bupati Bojonegoro

Ditengah ancaman pertempuran, akhirnya Presiden Soeharto sampai ke istana Presiden Bosnia, dengan disambut oleh teriakan dan lambaian tangan penduduk Bosnia.

Perjalanan Presiden Soeharto ke wilayah yang dilanda seteru itu kelak tetap dikenang sebagai sebuah perjalanan bersejarah, kata Mayjend. (Purn) Unggul K. Yudhoyono. Karena dari lawatan itu akhirnya menghasilkan berdirinya sebuah masjid megah di ibu kota Bosnia yang merupakan bantuan para dermawan Indonesia.

Kisah Unik Rombongan Presiden Soeharto.

Ada kisah unik kala pada saat kunjungan di medan tempur negara Bosnia. Dimana Mayor jendral Moerdiono yang menjabat Mensesneg, waktu itu ikut rombongan dan bertanya ke pada saya. Pak Presiden ada di Tank mana tanya Moerdiono. Saya jawab di belakang, lalu beliau ke belakang dan saya sengaja sedikit berbohong agar bila saya bilang di rombongan saya, pasti pak moerdiono akan memindahkan tempat duduk saya. Justru beliau sambil bercanda mengepalkan tangannya sambil berkata jangkrik ( Jawa : umpatan khas Jawa timur, red ).

“Saya tahu persis kepribadian pak Harto, dari makan yang sederhana dan tidak memilah-milih makan, serta daya tirakatnya yang kuat. Setiap hari selalu tidur diatas jam 12. Bahkan pekerjaan yang tak bisa dikerjakan di istana dibawa pada saat pulang. Selain itu, pak Harto selalu mengundang para menteri. Setiap surat yang di kirim ke istana selalu beliau baca satu persatu.

Baca Juga :  Wawan Fals dan Keresahan Jiwa Wabup Bojonegoro

“Beliau pak Harto gong mancing dan menembak,” papar Mayjend. (Purn) Unggul K. Yudhoyono, mengenang masa lalunya.

Bahkan pada saat almarhum Bu tin akan wafat beliau berasa di pemancingan. Setelah itu bertemu bu Tin, itu yang terjadi.

Ingin Mengabdi Sampai Akhir Hayat.

“Saya sekarang menjadi Ketua PKP POMAD, menjadi ketua adalah Pengabdian dan penuh tantangan sebagai purnawirawan angkatan darat, khususnya Polisi Militer AD. Kita akan segera mendata ulang keanggotaan PKP POMAD sekaligus pembaharuan KTA yang berbasis E-money. Data yang sudah masih untuk Jabodetabek sekitar 1200
” ungkapnya.

Dalam pengabdiannya sebagai Ketua Paguyuban Keluarga Besar Purnawirawan Polisi Militer Angkatan Darat (PKP POMAD), Mayor Jenderal TNI (Purn.) Unggul Kawistoro Yudoyono, S.H., berkeinginan adanya peningkatan kesejahteraan purnawirawan polisi militer angkatan darat melalui kegiatan usaha bagi anggota TNI yang telah pensiun.

Dengan tetap beraktivitas kerja, setidaknya akan tetap menjaga kesehatan, kebugaran badan dan pikiran. Sehingga tidak ada istilah berhenti mengabdi bagi seorang anghota TNI, setelah dirinya memasuki masa pensiun.

[ Amin Santoso].