oleh

Pemerintah Cabut Subsidi Harga Minyak Goreng Kemasan, Emak-emak Kelimpungan

-BERITA-199 views

Reporter : Ciprut Laela

BOJONEGORO. Netpitu.com – Ibu-ibu/emak-emak dan para pedagang di Kabupaten Bojonegoro murka karena harga minyak goreng kemasan naik. Harga minyak goreng kemasan 1 liter 24.000 ribu rupiah, dan dua liter di bandrol 47.800 rupiah. Kenaikan harga minyak goreng kemasan ini membuat kaget ibu-ibu rumah tangga serta para pedagang. Sebelumnya, ibu-ibu dan para pedagang berjuang untuk mendapatkan minyak goreng ditengah masa karatina minyak / (kelangkaan).

Kini, ketersediaan minyak goreng mulai stabil. Akan tetapi harga dinilai tak masuk akal. Selama 2 bulan yang telah lewat, sejak mulai penetapan harga ecer tertinggi (HET) 14.000 atau bersupsidi, minyak pun mulai langkah, bahkan stok di mana-mana pun hampir tidak ada.

Emak-emak kaget gegara harga minyak kemasan dua liter menjadi 47.800. Beragam komentar terlontar berkaitan harga minyak goreng tersebut. “Edan, edan banget,” Kata Nuryati, warga Kecamatan Kapas, kepada Netpitu.com. saat ditanya soal kenaikan harga minyak goreng, Kamis (17/03/2022).

Baca Juga :  Kasus Korupsi BOP Kemenag Mencuat Dari Surat Bupati Bojonegoro

“Harga minyak RP 47.800 itu untuk yang merk Fortun, dan untuk merek yang lebih bagus lebih mahal lagi. Dalam kenaikan harga minyak goreng yang luar biasa ini, dinilai memberatkan masyarakat. ” Naik seenaknya. Jangan bikin pusing warga, kasihan, “ucapnya.

Dilokasi yang berbeda salah satu ibu pedagang kecil bernama Yani Kecamatan Bojonegoro mengungkapkan, dalam pemberitahuan dari berita TV dan media sosial yang beredar, soal kenaikan harga minyak goreng, ia merasa aneh lantaran bersamaan harga naik, stok minyak kembali normal, bahkan di beberapa indomaret dan di supermarket sudah banyak terpampang.

“Anehnya, minyak jadi tersedia, jadi banyak,” Ujar Yani. Sebelumnya harga minyak goreng 47.800 dia sempat mendatangi sejumlah minimarket dan supermarket, menurutnya, stok minyak goreng malah kosong.

Tadi aku kebravo sekitar pukul 7.30 malam sudah habis, penjaganya masih dijual RP 14.000 perliter. Sebelum disubsidi pemerintah, harga minyak goreng perdua liter 38 ribu dan menjadi 28 ribu setelah disubsidi. Namun setelah disubsidi minyak goreng menjadi langka, bahkan orang-orang rela antri panjang tak kenal panas dan hujan untuk mendapatkan minyak goreng, ungkapnya.

Baca Juga :  Lama Tak Mendapat Jawaban Dari Gubernur, Anwar Sholeh Lapor Ke Ombudsman

“Terkadang saya berfikir, dan menduga-duga ini permainan para oknum pedagang dan oknum para pengepul yang sengaja menyembunyikan/mengkarantina minyak goreng di saat harga HET. Dan disaat harga mulai merangkak naik stok minyak yang hilang mulai bermunculan. Hehehe ini hanya pemikiran saya saja, tuturnya.

Pantauan Media Siber Netpitu.com yang dilapangan, Rabu 16/03/2022, disalah satu supermarket Kabupaten Bononegoro, kemasan dua liter bermerk fortun 48.000 sedangkan kemasan satu liter bermerek fortun 24.000 ribu.

Stok minyak goreng, di rak khusus penyimpanan minyak di Supermarket masih penuh. Ada juga minyak dalam kemasan botol. Kenaikan harga minyak goreng ini membuat kaget warga Bojonegoro, terutama kaum ibu-ibu dan para pedagang kecil.

Kenaikan harga tidak hanya di alami oleh minyak goreng saja, berbagai bahan pokok kebutuhan dapur para emak-emak pun banyak yang mengalami kenaikan. Seperti telur 1 kg di badrol 24 ribu, daging ayam 1 kg di badrol 35 ribu, daging sapi di badrol 1 kg 140 ribu, tomat 1 kg di badrol 15 ribu, dan untuk cabai beraneka ragam harga, untuk cabai merah kriting 1 kg 40 ribu, cabai rawit 45 ribu.

Baca Juga :  Beras 3 Kg Atau Uang Rp 33.000, Ini Aturan Zakat Tahun 2022

“Kaget dan shok banget rasanya, minyak goreng harganya mencapai 47 ribu lebih, hampir 48 ribu. Sebelumnya, menurut Rika paling mahal minyak goreng kemasan dua liter 37 ribu. Baik di Supermarket atau pasar tradisional. Rika mengaku keberatan dengan kenaikan minyak goreng ini. Meski demikian, Rika tetap membelinya karena kebutuhan sehari-hari.

Ya kepaksa beli, soalnya stok minyak di rumah habis, sudah ekonomi semakin hari semakin menurun, jualan pun juga sepi. Dulu saya jualan di alun-alun, karna selalu dapat obrakan akhirnya saya jualan di rumah, tambahnya.

(Put)