oleh

Bung Karno : Sejarah Bagi Masa Depan

Netpitu.com – Bung Karno pemimpin yang menang. Figurnya komplit. Ia membakar kesadaran politik massa, penggali Pancasila, memerdekakan bangsa. Ia berhasil mendirikan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dengan segenap daya dan upaya ia pimpin Republik untuk mempertahankan kemerdekaan.

Ia survive bersama bangsanya demi tegaknya tujuan nasional. Tak lelah ia serukan untuk memperhebat karakter kebangsaan yang punya perikemanusiaan. Bahkan ia ajak bangsa-bangsa terjajah untuk merdeka dengan Konferensi Asia Afrika 1955. Ia bukan hanya bapak bangsa, tapi telah jadi ayahanda kemerdekaan yang mendunia.

Hidupnya bukanlah tanpa ancaman. Tercatat tujuh kali Bung Karno hendak dibunuh. Namun Allah SWT melindunginya. Bung besar tetap tegar bertaruh nyawa, demi tegaknya Proklamasi kemerdekaan.

Tiba tahun 1965, kekesalan imperialisme kepada Bung Karno mencapai titik kulminasinya. Bermula dari desas-desus yang sengaja berhembus. Dewan Jenderal diisukan hendak mengkudeta Bung Karno. Gejolak politik keamanan dalam negeri memanas. Inilah waktu dimana terjadi tsunami politik, tragedi kemanusiaan yang semua bermuara untuk merongrong wibawa Presiden, dan Bung Karno menjadi pusaran titik korban dari gejolak itu. Bung Karno dituduh mengkudeta dirinya sendiri.

Lewat Surat Perintah (SP) 11 Maret yang sampai kini tak pernah ditemukan surat aslinya, Bung Karno dijatuhkan. Situasi politik dan keamanan benar-benar berubah. Tafsir atas SP 11 Maret membuat kekuasaan Bung Karno terlikuidasi. menteri-menteri yang loyal terhadap Bung Karno ditangkapi. Bahkan terjadi eksekusi tersistematis dari para pengikut Bung Karno hampir di seluruh wilayah tanah air.

Soekarno makin terisolir. Para penipu terus bermain muslihat, menjatuhkan Bung Karno ke dalam kegelapan yang total dan mengerikan. Bahkan perlakuan terhadap Bung Karno lebih kejam dari penjara isolasi Kolonial Belanda yang dulu ia rasakan.

Dalam jamuan-jamuan resmi ‘Bung Besar” hanya tampil sendirian, tanpa rombongan menteri atau jenderal yang dulu selalu bersamanya. Ia kehilangan hak untuk bergerak, kecuali ada izin dari yang berwenang. Seluruh pembicaraan telepon telah disadap, para pengunjungnya dicatat.

Kekuatan Orde Baru telah sukses membikin MPRS bersikap melalui Ketetapan. Mereka bermufakat menuduh Bung Karno teribat mengkudeta negara yang sedang Bung Karno pimpin sendiri. Demonstrasi besar-besaran yang didukung kekuatan Orde Baru secara keras dan terbuka menyerang Sukarno. Pidato pertanggungjawaban yang Bung Karno namakan “Nawaksara” dan “Pelengkap Nawaksara” ditolak MPRS.

Di Istana Bogor, Bung Karno jadi tahanan rumah. Ia dilarang melakukan kontak-kontak dengan penduduk setempat dan dilarang keluar daerah tanpa izin khusus. Pada permulaan 1968 telah menjadi kenyataan keji bahwa Bung Karno telah disingkirkan sama sekali dari Panggung Politik negeri ini. Sidang Umum MPRS Pada 21 Maret 1968 mengangkat Soeharto sebagai presiden.

Orde Baru berkuasa, lonceng Kematian bagi ide dan ajaran Sukarno semakin keras berbunyi. Api semangat Gagasan Bung Karno redup. Pemikirannya tabu untuk dibahas, apalagi diajarkan. Gagasannya sengaja diburamkan. Ia coba dikaburkan dari kenyataan sejarah pembebasan bangsa.
Sang Master-mind dari revolusi Indonesia teraleniasi dari tanah air, dari rakyat, dari keluarga, dan dari bangsa yang ia merdekakan sendiri.

Bung Karno sempat menulis surat ke Presiden Soeharto tanggal 3 November 1968 untuk meminta kelonggaran agar keluarganya bisa mengunjungi. Ia juga meminta agar Ny. Sugio yang selama ini mengurusi rumah Wisma Yaso, dizinkan membantu lagi.

Pembantu rumah tangganya tidak diizinkan masuk ke Wisma Yaso, sehingga untuk urusan dapur, Bung Karno harus mengurusnya sendiri.

Hari-hari berikutnya adalah kekosongan bagi Bung Karno, ia makin kesepian. Tak ada lagi kesempatan untuk berbicara di tengah lautan massa, kini tak ada lagi seorangpun yang bisa mendengarnya, kecuali dirinya sendiri. Hingga pada 1970 kesehatan Bung Karno makin memburuk. Tanggal 16 Juni ia dilarikan ke RSPAD dan meninggal dunia pada 21 Juni 1970.

Pemerintah Orde Baru telah memutuskan 7 hari berkabung dan memakamkan Bung Karno di Blitar, Jawa Timur dengan kehormatan sebagai Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Bangsa Indonesia berduka. Peti mati dan Jenasah Sukarno telah diselimuti bendera Nasional dan dibawa ke rumah di Jalan Gatot Subroto. Malam harinya Buya Hamka memimpin sholat jenazah dan berdoa bersama disambung kemudian acara berkabung yang dipimpin menteri agama saat itu.

Sepanjang malam itu, rumah Soekarno telah dihadiri orang-orang datang untuk berdoa dan memberi penghormatan terakhir untuk Sang Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Pada pagi hari jam 09.30 mobil jenasah bergerak menuju Lapangan Udara Halim Perdanakusuma.

Berkilo-kilo meter sepanjang jalan orang-orang berdiri mengantarkan Bung Karno. Dikediaman Wisma Yaso karangan bungan dengan tulisan tangan Fatmawati isteri tercinta berbunyi “Tjintamu menjiwai rakyat. Tjinta Fat“. Uraian Air mata mengiringi Jenazah Sukarno ketika melintas di jalan-raya Jakarta.

Siang harinya, jenazah Bung Karno dibawa ke Blitar lewat Malang dengan menggunakan pesawat Hercules dari Halim Perdanakusuma. Perjalanan dilanjutkan melalui jalan darat ke Blitar, menembus rakyat yang berduyun-duyun berduka dan memberi penghormatan terakhir memenuhi sepanjang perjalanan sampai makam .

Itulah akhir hayat Bung Karno. Namun visi Bung Karno tak boleh berakhir. Dalam ingatan dan lubuk hati terdalam, Bung Karno tetap abadi menjadi sosok pejuang yang mengabdikan dirinya pada tanah air dan bangsanya. Ia pemimpin di hati rakyat. Bung Karno telah menang dalam keabadian. Tetap dicintai hingga akhir hayat.

Bung Karno adalah pribadi yang komplex dilahirkan dari proses kesejarahan, pendidikan, penggemblengan, pengalaman, cerita menyenangkan, hingga cerita yang amat menyedihkan. Namun ia mengajarkan anak-anak bangsa mengenai kemanusiaan, kerelaan berkorban, optimisme, pengabdian, kuatnya nyali, niat dan tekad.

Nilai-nilai itulah yang menjadi senyawa penguat bagi tumbuh dan besarnya harapan. Harapan untuk memenangkan Indonesia menuju Indonesia Raya yang sejati-jatinya merdeka.

Pada 10 September 1966 Bung Karno memberikan kesaksian pengabdiannya, “Saya adalah manusia biasa. Saya dus, tidak sempurna. Sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kekurangan dan kesalahan.

Hanya kebahagiaanku adalah mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada bangsa. Itulah dedication of life-ku.

Jiwa pengabdian inilah jadi falsafah hidupku. Saya hikmati dan jadi bekal hidupku.
Tanpa jiwa pengabdian ini, saya bukan apa-apa.

Akan tetapi, dengan jiwa pengabdian ini, saya merasa hidupku bahagia dan membawa manfaat”

Selamat Jalan Bung Karno Bapak Bangsa Indonesia.

Ditulis oleh : H. Abidin Fikri, S.H., M.H.
PLT Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bojonegoro.
Pimpinan Fraksi PDI Perjuangan MPR RI
Anggota DPR RI Komisi IX, 2014 – 2019.