oleh

Sayang…

Sayang
Catatan Tepi : Arieyoko.

Pernah mendengar (tanpa sengaja), lagu ‘Sayang’ ? Atawa pernah (dengan sengaja) memutar (MP3-MP4)-nya ? Atawa, bahkan menyenandungkannya? Meski hanya sepenggal-penggal baitnya saja ?

Via Vallen kembali mempopulerkan lagu ciptaan Anto Obama, sejak tahun 2015. Namun, layaknya penyanyi nDeso lainnya, baru akhir-akhir ini, lagu yang didendangkan si cantik itu ngetop –dan, masuk tivi.

Di acara Indonesia Choise Award 5.0 Net yang disiar Net-Tivi, lagu itu digarap sangat apik. Di awali tetabuhan gendang yang enerjik, lantas ditingkahi penari latar milinea yang geraknya enerjik dan rancak, ditambahi tata lampu yang wow. Jadilah sajian yang ciamik dan menggoyangkan publik.

Tercatat (telah) lebih dari 171 juta pemirsa (telah) menonton videonya Via Vallen ini –di internet. Yakni, di official music video yang dirilis 24 Februari 2017.

Ini (amat) menakjubkan. Ini (sekaligus) menandai genre musik dangdut, yang dikopyok dengan campur sari, kemudian diaduk dengan hip-hop. (Bisa) jadi sesuatu yang beda.

Ya, menjadi beda dan menarik dan layak jual. Konsep musik gado-gado yang campur baur, menjadi sebuah terobosan. Khususnya untuk kreator seni (musik) –dalam karya-karyanya.

Bukan hanya irama dan beatnya saja, dan harmoninya, dan perkusinya, dan seabreg campuran-campuran lainnya, yang (mampu) digarap apik. Melainkan juga liriknya, bait-bait lagunya. Pun campuran bahasa yang hora karuan antara Bahasa Djawa, Bahasa Etnik Djawa, dengan Bahasa Persatuan Indonesia, dengan Bahasa import Inggris. Meski, hanya dimainkan, dalam coda-coda yang sempit.

Mari simak sebait lirik lagu pembukanya ini : “Sayang, apa kowe krungu jerite atiku |
mengharap engkau kembali | Sayang, nganti memutih rambutku | Rabakal luntur tresnaku”.

Pemakaian kata ‘kowe’ yang bukan mengguna kata ‘panjenengan’ atawa ‘sampeyan’ atawa ‘sliramu’ atawa padanan kata lainnya. Sangat menunjukkan identitas lagu ini digarap memakai Bahasa (dan sebagai) Djawa ngoko. Bukan Djawa madya atawa Djawa karma inggil.

Geetz (Clifford Geertz, 1926 – 2006) dalam bukunya yang bertutur tentang Mojokuto, memang memilahkan Djawa menjadi beberapa bagian. Dan (pada) faktanya, kebudayaan (etnik) kita tersebut sangat berbeda. Sesuai, selaras, seirama harmoni kehidupan yang dimiliki (oleh) sebuah bangsa (etnis) : itu sendiri.

Pada tataran di zaman now yang mulai menjadi super milenia ini, tabrakan budaya yang satu dengan budaya lainnya, sangat keras terjadinya. Dan, tidak terelakkan.

Semangat Hip-Hop (yang dinyanyikan Boy William, di Net-Tivi). Benar-benar telah memasuki (dan mengkawini) dangdut bin campur sari. Tentu, bisa dimaknai dan dimengerti, sebagai penunjuk berarti (telah terjadi), adanya persilangan budaya itu.

Demikian juga pemakaian bahasa campuran dalam lirik bait-baitnya : “Jare sehidup semati nanging apa bukti | Kowe medhot tresnaku demi wedok’an liya | Yo wis ora apa-apa, Insyaallah aku isa. Lila”.

Inilah salah satu idiom, yang menjadi wujud konkret, mengapa kebudayaan (kini) menjadi demikian maha penting. Yang memerlukan strategi kebudayaan yang bener dan pener. Ini juga, (yang mungkin) menjadi alasan digelarnya Konggres Kebudayaan 2018 di Jakarta, 7-9 Desember 2018 mendatang.

Terbayang betapa carut-semrawut kebudayaan (kita) sekarang. Maklumlah, telah sekian puluh tahun, kebudayaan hanya sekadar menjadi kembang lambe. Sekadar diucap di mana-mana, tanpa ketahuan muara dan ujungnya. Selain hanya digunakan, sebagai simbol-simbol.

Memang, telah ada konggres aneka warna, perihal kebudayaan (asli) milik kita. Bahkan sudah dibuat aneka ragam Peraturan-Peraturan Daerah (Perda), di tingkatan Gubernur sampai Bupati dan Walikota. Prateknya, toh memble juga.

Para pemangku birokrat kerap tidak memiliki wacana (cukup), tentang dan perihal kebudayaan itu sendiri. Sementara, para budayawan yang ndelik di pelosok-pelosok pedesaan, kerap (sekali) diabaikan.

Lirik lagu di bawah ini, sungguh pas, untuk sebuah keprihatinan terhadap kebudayaan (milik) kita : “Meh sambat kaleh sinten yen sampun mekaten | Merana uripku | Aku welasna Kangmas, aku mesakna aku | Aku nangis, nganti metu eluh getih putih”.

Syair itu cucok memetakan gambaran (kondisi dan nasib) kebudayaan milik kita.. Yang (makin) terseok-seok. S_a_y_a_n_g_g_g…

*Arieyoko
Bojonegoro 2018