oleh

Ketua KTNA, Gubernur Jatim dan Bupati Bojonegoro Kompak Tolak Impor Beras

BOJONEGORO.Netpitu.com – Petani se Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur, Senin (22/1) pagi tadi melakukan panen serentak dengan luas tanaman padi 1.833 hektar, yang tersebar di 7 Desa.

Ke Tujuh Desa tersebut 1. Gedongarum 359 ha, 2. Kedungprimpen 325 ha, 3. Temu 315 ha, 4. Prigi 301 ha, 5. Semambung 139 ha, 6. Kanor 205 ha, 7. Pilang 189 ha.

Pada kesempatan tersebut Ketua KTNA, Winarno Tohir, Gubernur Jatim, Soekarwo dan Bupati Bojonegoro, menyatakan menolak rencana impor beras yang akan direalisasi pada awal tahun 2018 ini.

Lantaran mulai Januari hingga Mei nanti petani padi sudah mulai menikmati masa panen. Jika rencana impor beras dilakukan Pemerintah maka harga gabah petani akan jatuh di titik paling rendah.

Panen raya padi perdana di Bojonegoro ini dihadiri Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Gubernur Jawa timur, Soekarwo, Wakasad TNI Jenderal Tatang Sulaiman, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir, dan Bupati Bojonegoro, Suyoto.

Selain panen hari ini seluas 1.833 hektar, pada Februari mendatang, menurut Suyoto, Bojonegoro akan melakukan panen padi seluas 35.779 hektar. Sedangkan untuk Maret akan mengalami panen kembali seluas 25.694 hektar dan panen terakhir musim tanam padi pertama ini diperkirakan akan jatuh di April nanti dengan luas tanaman padi sekitar

Lebih lanjut dikatan Suyoto, diperkirakan dalam satu hektar tanaman padi akan menghasilkan hasil panen gabah keting sawah 6,24 per hektar. Dengan demikian hingga April nanti Bojonegoro akan memiliki gabah hasil panen sekitar 500.480 ton. Jumlah ini lebih kecil dibanding hasil panen selama 2016 yang mencapai 1,580.000 ton gabah kering sawah.

KTNA pusat, Winarno Tohir, mengatakan panen di Kanor demikian luas dan hebat. Ini adalah panen raya, jika selama ini panen di Bojonegoro sedikit saja namun kenyataannya sangat luas sekali.

Ditegaskan Winarno, Jawa timur harus menolak import beras. Import sebaiknya dipikirkan kembali jangan sampai harga gabah petani jatuh disaat.

Sementara itu Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan salah satu capaian pembangunan di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah sejak 2016-2017 tidak ada import beras masuk di Indonesia.

Soal rencana impor beras, menurut Mentan bukanlah kebijakan kementerian yang dipimpinannya. Namun merupakan program di Kementerian lain.

“Sejak Januari kita panen, jangan takut dengan anggapan yang tidak panen, panen puncak terjadi sepekan lagi. Kesepakatan Bulog dengan kita, harus serap. Jangan terjadi seperti tahun lalu hanya separuh serapan. Panen seluruh Indonesia ada sekitar 2 juta hektar dan konsumsi hanya 1,6 juta ton. Jadi Bulog harus menyerap. Jangan mengambing hitamkan, karena akan merugikan petani kita,” tegas Amran Sulaiman.

(dan)