oleh

Dinsos Bojonegoro Ancam Polisikan Agen Penyalur BPNT Nakal

BOJONEGORO. Netpitu.com, – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bojonegoro, mengancam bakal melaporkan kepada penegak hukum jika mengetahui terdapat agen penyalur Bantuan Sosial (Bansos) yang melakukan penyelewengan.

Kepala Dinsos Bojonegoro, Arwan mengatakan bahwa pihakya akan melaporkan ke Polisi perihal pengenaan sanksi hukum dan melapor ke Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Bojonegoro agar mesin Elektonik Data Capture (EDC) milik Agen BNI-46 untuk di Non Aktifkan.

“Akan dikaji dulu untuk mengetahui tingkat pelanggaranya, jika ada unsur pidana maka nanti akan menjadi ranah pihak kepolisian, serta akan diajukan untuk pemblokiran terhadap fasilitas yang diberikan oleh BNI,” ujarnya melalui pesan WA, Kamis, 23/07/2020, Pukul 11.23 WIB.

Menurut dia, pihaknya sering menerima aduan berkaitan penyaluran Bansos tidak sesuai Pedoman Umum (Pedum) yang diundangkan, yakni banyak Agen tidak memberikan komoditi sembako berupa beras, telur, daging ayam diwaktu yang sama selepas Kartu Keluarga Sejahtera (KKS/ATM) milik Keluarga Penerima Manfaat (KPM) digesek oleh agen.

Serta pihaknya masih sering menemui bahwa banyak Agen BNI-46 meminta biaya Admin diatas Rp 2000,- seperti ketentuan yang disampaikan. Memberikan intimidasi kepada KPM bahwa jika tidak melakukan transaksi di wilayahnya maka ATM milik KPM dapat terblokir, serta larangan melayani penyaluran Bansos diluar wilayahnya.

“Saat ini jumlah Agen BNI-46 di wilayah Kabupaten Bojonegoro berjumlah kurang lebih sekitar 1.400 agen, sedangkan yang khusus menangani bansos (PKH/BPNT) berjumlah 240 agen,” lanjut dia.

Untuk diketahui, pada Selasa , 24 Juli 2020 sekitar Pukul 16.30 WIB, Agen BNI-46 di Desa Guyangan, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro melakukan transaksi tarik tunai Bansos Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) milik Insiroh, (72) melalui mesin Electronic Data Capture (EDC) miliknya.

Usai melakukan penggesek’an kartu, didapati bahwa di dalam kartu ATM tersebut, selain tertransfer Bansos berupa Sembako senilai Rp 150.000,- juga tertransfer sejumlah uang yang dapat diambil tunai sebesar Rp 1.400.000,-

Agen membujuk pemilik ATM agar uang tunai tersebut diambil dan digunakan mencukupi kebutuhan hidup. Alasanya jika tidak diambil maka Bansos akan ditarik lagi oleh Negara. Agen kemudian memberikan uang tunai sebesar Rp 1.100.000,- kepada pemilik ATM.

Uang sejumlah Rp. 1,4 juta dicairkan dan dipotong Rp 300.000,- sebagai biaya admin dengan alasan bilamana ketahuan maka resikonya akan sangat besar.

Kepada pemilik kartu ATM, pihaknya berpesan agar tidak mengabarkan hal ini kepada siapapun.

(“)