oleh

Wawancara khusus Dengan Dedengkot Partai demokrat Prof. Dr. Budi Subur Santoso : Politik Kita Itu Politik Cair

-BERITA-27 views

Oleh D. Sukowiradi, wartawan netpitu.com di Jakarta.

“Itu bukan gerakan politik. Politik kita, itu politik cair”, ujar Prof. Subur Budhi Santosa. Jika kemudian, timbul fenomena, maraknya sebagian tokoh-tokoh, pasang baliho dimana-mana itu, lanjutnya, tak lebih drpada kelatahan berpolitik saja.

“Ditengah pandemi seperti ini. Mestinya kita bekerja keras, mencari solusi bersama. Bukan cuma sekadar bisa bersuara keras. Tanpa menyodorkan alternatif jalan keluar”, tandas Prof. Subur.

Prof. Subur Budhi Santosa, adalah Ketum pertama Partai Demokrat. Sekaligus, aktor terpenting, berdirinya Demokrat.

“Cikal bakal partai ini, awalnya, kami berdiskusi intens dengan mantan Wakil Presiden RI. Try Soetrisno. Tapi karena satu dan lain hal, Pak Try, tak bersedia kita usung”, kata Prof Budi, mengenang perjalanan berdirinya Demokrat.

Ditengah perayaan Ultah ke-84, bertempat di bilangan Bintaro, rumah kediamannya. Netpitu mewancarai khusus, Guru Besar Antropologi, dari UI, ini.

Berikut petikannya:

Netpitu (N): ” hepi besde, Prof. Sehat, panjang umur”.
Prof. subur (P): ” Terima kasih banyak”.

N:”Prof, bagaimana pandangan secara umum, perpolitikan nasional, saat ini?
P:”Cukup baik”

N:”Fenomena baliho itu, prof?
P:” Ah, itu kan cuma kelatahan berpolitik. Rakyat sudah “jeleh” dengan kegaduhan politik. Tak ada maknanya, sama sekali. Apalagi, ditengah pandemi Covid-19, seperti ini. Rakyat membutuhkan solusi”.

Baca Juga :  Bupati Bojonegoro di Papua Arep Laopo..?

N:”Bagaimana solusi dari kebijakan pemerintah?”
P: “Pemerintah sudah benar. Bekerja dan bekerja. Bahwa suara oposisi, yang selalu mengkritik. Seolah semua kebijakan pemerintah yang diambil, selalu salah dimata mereka. Itulah yang mesti dipertanyakan. Mereka sepertinya, tanpa mau mengerti dan memahami, kesulitan yang dihadapi”.

N:”Apakah itu, bisa diartikan sebagai investasi politik, yang negatif?”
P:”Negatif, jika itu– karena bisa dimanfaatkan–pihak luar. Positif, jika ditanggapi pemerintahan ini, tanpa perlu menanggapi yang berlebihan. Selebihnya, bekerja dan bekerja”.

N: “Fenomena politik macam apa itu, Prof?”
P: “Politik sekarang ini, tak lebih, untuk memperebutkan kekuasaan. Mereka tak memikirkan end goals, untuk apa mereka berpolitik. Sekadar saling berlomba “kemaruk” atas kekuasaan.

N: “Apakah ini kemunduran demokrasi, Prof?”
P: ” Saya tak mengatakan itu. Yang jelas, ini masih semacam dampak euforia berdemokrasi”.

N: “Bukankah era keterbukaan ini, sudah berjalan 20 tahun lebih, Prof?”
P: “Sekarang ini, banyak sarjana, bukan berarti cendekiawan. Mereka terjun dalam dunia politik, banyak yang masih belajar. Atau, lebih hanya menikmati dan menjadi bagian euphoria demokratisasi.

Baca Juga :  Bongkar Mafia Minyak Goreng Kejagung Tetapkan Dirjen Daglu Kemendag dan 3 Pengusaha Sebagai Tersangka

Mereka kurang memahami arah dan tujuan, mengapa mereka berpolitik. Kerapkali, justru ini yang membuat kacau, terhadap isu-isu yang berkembang. Salah fokus. Memblow-up isu, ujungnya salah.

Dampaknya tentu, tak baik buat negara, termasuk buat dirinya sendiri?”

N: “Bagaimana dengan politik oligarki?”
P: “Inilah akar persoalannya. Disatu pihak, kita ingin membangun politik dan demokrasi. Dipihak lain, akar landasannya, tak ditanam dengan kuat”.

N: “Kongkritnya, Prof?”
P: “Partai Demokrat, semisalnya. Rancangan awalnya, kami menginginkan, sebagai partai terbuka yang demokratis. Kenyataannya, sekarang bagaimana?”

Profesor yang berpembawaan kalem, tenang, dengan kalimat yang terukur, ini memang dikenal seorang penyabar. Begitu cermat dia mendengarkan pendapat orang. Setelah meletakkan duduk persoalan pada tempatnya, barulah dia memberikan pandangan-pandangannya, dengan jernih.

“Berpolitik itu, tidak mesti menciptakan konflik. Ada take and give. Ada kompromi disana”, ujarnya.

Tengkleng Solo, Bu Edy, dari pasar klewer, yang langsung didatangkan dari kota kelahiran Prof, ini salah satu favorit menu Ultah. Menjadi selingan waktu wawancara, yang mengasyikan.

Wawancara pun berlanjut, setelah disambung acara ngopi, barengan tamu yang lain. Berikut lanjutannya:

Baca Juga :  PLN Matikan Sambungan Listrik Apa Maunya... Rakyatpun Marah... Cuk

N: “Prof, figur pengganti Jokowi, 2024 nanti, seperti apa?”
P: “Apapun, politik dalam negeri dinegara ini, masih bertumpu pada 3 pilar utama. Yaitu, Nasional, TNI dan religius. Siapapun Presidennya, mesti didukung oleh ketiga kekuatan itu”.

N: “Jadi, kalau merujuk pada figur seperti itu, siapa, Prof?”
P: “Cukup adalah”.

N: “Sebut nama, misalnya, Prof?”
P: ” Prabowo, misalnya. Asalkan dia, mau merangkul kelompok nasionalis”.

N: “Jadi, dengan manut untuk digandeng PDIP (Megawati), itu langkah yang tepat?”
P: “Prabowo cukup berbesar hati, dengan kekalahannya di Pilpres kemarin. Buktinya dia mau berkonsolidasi, dengan menjadi bagian koalisi, dari pemerintahan sekarang.

N: “Lantas, dengan siapa berpasangan?”
P: “Barangkali, dengan Puan. Itu wajar, sebagai kalkulasi politik”.

N: “Melihat kecenderungan dilapangan, apakah pasangan itu, bisa memenangi konstestasi?”
P: ” Sangat mungkin. Tetapi ya itu tadi, kelompok nasionalis mesti digalang lebih baik. Karena, Prabowo, pilpres kemarin, kan terkesan seperti lebih condong, meraup suara dari kelompok religius.”

N: “Terakhir, Prof. Bagaimana dengan Demokrat sendiri?”
P: “Hehe,,itu nanti saja, kita bahas”, ujar Prof Budi, menutup pembicaraan.

Ditulis oleh kontributor netpitu.com Diding Sukowiradi