oleh

2024: All Yujiem “UGM” Final?

-BERITA-79 views

Oleh : Diding Sukowiradi.*

Ada berapa banyak pasangan CaPres 2024?. Siapa saja mereka?. Bagaimana konfigurasi partai pengusung?. Tiga pertanyaan ini, yang relevan dengan kontestasi 2024, yang oleh banyak orang, disebut sebagai ” the real fighting”.

Sepertinya, akan ada tiga pasang balon (bakal calon) Capres. Artinya, ada 6 orang kandidat potensial yang dibutuhkan.

Berdasar beberapa survey yang telah beredar, nama-nama itu tak jauh dari Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Puan Maharani, Risma dan Gatot Nurmantyo. Dari sekian nama itu, hanya Prabowo, yang punya elektabilitas tinggi sekaligus sebagai “pemilik” partai (Gerindra).

Disusul kemudian, ada AHY dan Puan. Jika pun kedua terakhir ini berelektabilitas tergolong rendah, tapi cukup “aman” untuk ikut maju (minimal Cawapres). Karena AHY sebagai Ketum Demokrat. Dan Puan, jika sang Ibu “Mega” nantinya benar-benar menghendaki. Tapi apakah kemudian akan seperti itu? Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi.

Nama-nama tersisa lain, mengandalkan elektabilitas, tapi minus kekuatan di Partai.

Lantas, bagaimana bagi mereka yang punya kekuatan di partai, tapi jauh dari hasil radar survey?

Sebutlah, semisal, Airlangga Hartarto, sebagai Ketum Golkar sekaligus Menko Perekonomian. Atau, Cak Imin, sebagai Ketum PKB? Kedua partai yang mereka ketuai, punya kekuatan cukup signifikan, untuk menyumbang, agar lolos dari syarat Presidential Threshold (20%).

Perlu diingat, bahwa bisa maju tidaknya seorang calon, tidak hanya berdasar tingginya elektabilitas sang calon. Tapi juga perlu dukungan mutlak, dari siapa partai pengusungnya. Tanpa itu, hal yang mustahil. Dengan kata lain, setinggi langit ketujuh elektabilitas seseorang, jika zonder partai pengusung (juga) akan percuma.

Dengan demikian, nama Airlangga dan Cak Amin, termasuk dalam kandidat 6 calon tersebut. Kedua mereka ini, punya bargaining position kuat, untuk “adu kartu”, minimalnya sebagai calon Wapres.

Jadi, kemungkinan 6 kandidat nama-nama, itu menjadi: Prabowo, Ganjar/Puan, Anies, Airlangga, Cak Imin serta Sandiaga/ Ridwan Kamil.

Bagaimana dengan AHY? Jika Judicial Review ke MA, yang diajukan Yusril Ihza Mahendra (YIM) berhasil, maka tipis kemungkinan, AHY (dan, Demokrat) bisa berpartisipasi dalam Pilpres 2024. Seperti dua Pilpres sebelum ini, mereka akan jadi penonton saja.

Baca Juga :  Wujudkan Kesejahteraan Rakyat Golkar Lounching Kios Baqoel Karya Berkah

Dan, sepertinya kemungkinan ini yang akan terjadi. Jika pun, itu YIM kalah. AHY akan tetap sulit masuk dalam kategori 6 kandidat tersebut.

Memang kemudian, tidak lantas mudah mengurai konstelasi politiknya. Pada kekuasaan dan kekuatan partai, sebagai landasan demokrasi kita, itu dikuasai segelintir elit. Ada oligarkhi disana. Masing-masing elite, bersikap bak pemilik perusahaan. Itulah yang bisa jadi, menjadi batu sandungan buat mereka yang berelektabilitas tinggi. Semacam GP dan AB.

Tapi kali ini, kita akan melihat–sekaligus menyorongkan kepermukaan–ada kekuatan lain yang tersembunyi, untuk melawan oligarkhi tersebut. Apa itu?

Coba kita perhatikan. Dari kemungkinan 6 calon kandidat tersebut, 4 diantaranya “bocah Yujiem”. Ada Ganjar, Anies, Airlangga dan Cak Imin. Dua pertama, pemilik elektabilitas tinggi, tapi minus kekuatan di Partai. Dua nama terakhir, sebaliknya. Ketum Partai, tapi rendah elektabilitas. Artinya, mereka berempat itu, punya kekuatan tersembunyi yang cukup dasyat, jika “berani” berkolaborasi (tentu dengan ramuan khusus).

Dan, jika ramuan jamu “beras kencur” itu disepakati, akan sangat menentukan, mau dibawa kemana arah politik 2024.

Sekarang, kita berasumsi. Jika bisik-bisik– kolaborasi Pdip dan Gerindra– benar-benar terwujud. Siapa yang dipilih Mega, untuk mendampingi Prabowo? Ganjar atau Puan?

Jika Ganjar, tentu naif buat Pdip, jika Ganjar cuma jadi Wapres. Karena diyakini banyak orang, peak performance Ganjar, akan berada di puncak, saat 2024 tiba. Kebalikannya, jika Prabowo yang jadi Wapres, juga sangat tidak mungkin terjadi. Prabowo pasti menolak untuk itu.

Jadi, yang paling masuk akal dikalkulasi, ya Prabowo dengan Puan. Kebetulan, momentum 2024 ini, Mega juga mesti memberikan tongkat estafetnya. Siapa lagi, kalau bukan ke Puan?

Dititik inilah, perbedaan momentum seorang Jokowi dan Ganjar, pada konteks Pdip (baca: Mega). Jokowi bisa diusung Pdip, karena datang pada waktu dan tempat yang tepat. Sedangkan Ganjar, diselimuti persoalan tongkat estafet trah Soekarno. “Ojok lali karo oyot”. Waktu nya tidak pas.

Baca Juga :  Tumpukan Material Proyek di Poros Jalan Balen Sugihwaras Memakan Korban

Pertanyaannya: bagaimana Mega mensikapi dua hal tersebut? Antara tekanan elektabilitas Ganjar yang moncer vs kebutuhan estafet regenerasi? Melihat karakter Mega, saya kok pesimis. Mega akan condong memilih yang kemungkinan terakhir.

Kecuali, memang saya keliru, bahwa Mega telah berubah. Serta inner cycle Pdip bisa menyakinkan Mega, sekaligus memainkan gimmick politik, dengan lihai.

Lantas, bagaimana jika, skenario Prabowo/ Puan, itu tetap terjadi?

Trah Yujiem, mesti melawan. Oligarkhi dan kepemimpinan partai yang puritan, itu mesti dilawan. Sudah tidak seiring dengan kemajuan zaman.

Apalagi, lagi-lagi, jika JR YIM dikabulkan. Akan ada gelombang politik kepartaian, yang pelik. Dan, Pdip akan menanggung resiko yang tidak kecil. Coat tail effect Pilpres, bukan tidak mungkin, memberikan dampak negatif. Memerosotkan suara Pileg mereka.

Sepertinya, segala kemungkinan resiko terburuk inilah, yang lagi dihitung oleh Pdip.

Kembali keempat trah Yujiem tersebut. Coba, mari kita telisik.

Pertama; Anies Baswedan. Kita tentu sulit melupakan, bagaimana cara AB meraih kekuasaan di DKI. Begitu absurd. Senjata intoleransi berkumandang kencang. Dan, pada Pilkada DKI 2017, tersebut banyak kalangan yang bilang, itu Pilkada terburuk yang pernah ada.

Disamping itu, AB juga tidak punya basis partai yang kuat. Karena memang tidak berpartai.

Kedua; Ganjar Pranowo. Buat saya, GP lebih punya komitmen yang kuat, buat menjaga kemajemukan bangsa ini. Dia punya elektabilitas tinggi (bahkan diyakini akan berada di puncak) pada 2024.

GP, sepertinya juga lebih mewakili aspirasi trah Yujiem, dengan kemajemukan dan kerakyatannya. Mengedepankan toleransi. Melawan radikalisme. Tampil rileks, rendah hati, kongkrit berkarya dan berpresrasi. Juga “demen gojek kere”, ciri khas anak-anak Balairung, Kampus Biru.

Tapi soalnya kemudian: apa kendaraan partai pengusungnya? Dan, apakah, GP punya
“karakter” untuk loncat pagar, pindah partai, misalnya?

Ketiga; Airlangga Hartarto. Sebagai Ketum Golkar dan Menko Perekonomian, sebenarnya AH punya kekuatan dan kekuasaan serta “panggung” sangat lebar dan luas. Sangat disayangkan, semuanya itu tidak (baca: belum dimanfaatkan) secara maksimal. Branding AH begitu lemah, bahkan kedodoran.

Baca Juga :  Pentingkan Pendapatan Pajak Bapenda Abaikan Ijin Pemasangan Reklame

Keempat; Cak Imin. Sebagai Ketum PKB, tentu akan punya peran sentral dalam meraup suara dari kelompok islam. Faktanya, bahwa PKB memang tertinggi pada pemilu lalu, dibanding sesama partai Islam lainnya.

Jadi, bagaimana kongkritnya UGM mesti melawan?

Pertama; GP mesti “take position”(Dengan atau tanpa Pdip). Mematok target di harga: RI-1.

Konsekuensinya, GP mesti memberanikan diri, untuk lompat pagar.

Kedua; karena GP lebih mewakili kelompok nasionalis, maka Cak Imin lah yang lebih pas mendampingi, sebagai Wapres ( tentu dengan segala kelebihan dan kekurangnnya).

Ketiga; bagaimana dengan posisi AH?

Apapun namanya, politik ujungnya, sharing kekuasaan. Disitulah mesti ada “solusi” lain, berupa kue kekuasaan, yang mesti dibagi. Dan ini, bisa diomongin, sambil selonjoran, nongkrong ngupi, sego kucing, sambil gojek kere, ciri khas anak-anak gelanggang UGM (juga kampus biru).

Lantas, bagaimana dengan AB?

Biarlah AB menjadi calon ketiga, berpasangan dengan Sandiaga (mengulang Pilkada DKI).

Konfigurasi dan komposisinya menjadi : Prabowo/Puan (Gerindra+Pdip), Ganjar/Cak Imin (Golkar + PKB) dan Anies/ Sandiaga (partai lain).

Lagi- lagi, yang terpenting, semua kalkulasi diatas, didasarkan atas asumsi: jika dan bila, Pdip nekad berkolaborasi dengan Gerindra, dengan memaksakan Prabowo/ Puan.

Jadi?

Sepertinya kisah pilkada DKI 2017 akan berulang. Cuma yang berbeda, pada putaran kedua, Anies/ Sandi, sepertinya akan sulit mengulang kisah manis mereka berdua.

Ganjar/ Cak Imin lah yang lebih punya kans meneruskan trah Yujiem “UGM” Kampus Biru.

Dan, itu maknanya, kesinambungan pembangunan, yang pondasinya sudah diletakkan putra terbaik UGM saat ini (Jokowi), akan terus berkelanjutan.

Ujungnya, tag line yang pas buat 2024: “Siapapun pilihannya, Presiden nya tetep bocah Yujiem “UGM”.

*) Penulis adalah Diding Sukowiradi, Pengamat sosial dan politik.