oleh

Puluhan Punky Binaan Polisi Pilih Rayakan Tahun Baru Di Ponpes

BOJONEGORO. Netpitu.com – Mengaku jika selama ini hidup dijalan dirinya bersama rekan-rekannya merasa hidup tak menentu, tidak punya aturan serta tidak jaranghari dirinya mendapat pandangan buruk dari masyarakat.

Komunitas anak punk adalah sebuah fenomena sosial yang tengah mewabah di seluruh kota-kota besar di Indonesia. 

Mereka berada di pusat-pusat kota dengan penampilannya yang ekstrim. Rambut mohawk ala suku Indian (rambut paku) dengan warna-warni yang terang/menyolok, sepatu boots, rantai dan spike (gelang berduri), body piercing (tindik), jaket kulit, celana jeans ketat, baju yang lusuh, atau t-shirt hitam, membuat setiap mata yang memandang merasa ganjil, curiga dan menyeramkan.

“Berbagai kesan dan stigma negatif masyarakat ditujukan terhadap komunitas anak muda ini,” ungkap AKBP Ary Fadly saat dikonfrmasi netpitu.com beberapa hari yang lalu, setelah upacara Hari Ibu di Bojonegoro, Sabtu, (22/12/2018)

Menurut Kapolres ini mereka dianggap kriminal, preman, brandal, perusuh, pemabuk, pengobat, urakan, dan orang-orang yang dianggap berbahaya.

“Hampir di setiap kota, keberadaan komunitas anak punk dipandang sebagai masalah yang meresahkan, sehingga upaya merazia mereka dilakukan dimana-mana dengan alasan mengganggu ketertiban umum,” papar Achmad Maksun, Pimpinan Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Desa Bulu, Kecamatan Sugihwaras saat ditemui netpitu.com hari ini juga, Jum’at, (28/12/2018).

Baca Juga :  Pencegatan Kendaraan Bermotor di Jalan A. Yani Bojonegoro Diduga Illegal

Sedangkan Kapolres Bojonegoro, AKBP Ary Fadly, dalam kesempatan yang sama saat diwawancarai media ini menjelaskan bahwa dalam operasi Bina Kusuma beberapa waktu yang lalu, Polres Bojonegoro, telah mengamankan puluhan anak-anak punk yang beroperasi di wilayah Kota Bojonegoro.

Setelah dilakukan pembinaan kurang lebih empat bulan di pondok tersebut, puluhan anak-anak eks anak punk ini hampir berubah 100 persen.

“Mereka sekarang sudah mulai terbiasa akan kehidupan pondok pesantren yang mulai dari ilmu agamanya, kemampuan mengajinya dan kedisiplinan selama di pondok,” jelasnya.

Lebih jauh Kapolres ini, berharap upaya yang telah dilakukan oleh Satbinmas Polres Bojonegoro ini agar terus didukung oleh masyarakat. Sehingga upaya-upaya tersebut diharapkan akan mampu meminimalisir gangguan Kamtibmas di wilayah hukum Bojonegoro.

Baca Juga :  Peringati Reformasi 1998 " Selamatkan Bojonegoro Dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme "

“Kita harapkan Satbinmas Polres Bojonegoro, terus melaksanakan kegiatan-kegiatan dan bekerjasama dengan pondok-pondok pesantren untuk membangun umat, membangun manusia, membangun SDM yang baik, sehingga kedepannya dapat berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya.

Pondok Pesantren Mambaul Ulum, tepatnya berada di Desa Bulu, Kecamatan Sugihwaras. Seperti contoh Kafid bersama rekan-rekannya ini telah berhasil dididik berbagai ilmu agama.

Tidak hanya itu anak-anak bekas anak punk tersebut mengaku mendapat kenyamanan di pondok pesantren yang diasuh oleh Ahmad Maksun, ini.

“Di pondok ini mereka sudah 6 bulanan lebih dan sepertinya malam tahun baru nanti mereka ingin melakukan istighosah bersama di pondok kami,” katanya.

Selama hidup dijalanan sebagai anak Punk ini Kafid, mengaku jika dirinya jarang pulang kerumah dan selalu pergi ke luar kota.

Dipicu dengan adanya permasalahan keluarga Kafid, terjerumus ke dunia anak punk bersama rekan-rekannya.

Baca Juga :  Lagi-lagi Bupati Langgar Aturan Sendiri

“Kebanyakan ada permasalahan dari keluarga,” ujarnya.

Dirinya, mengaku akan kembali ke keluarga setelah membenahi diri. Hal ini sesuai anjuran pengasuh pondok pesantren. Kepada netpitu.com ini Kafid, beserta rekan-rekannya berpesan kepada anak punk yang saat ini masih hidup dijalanan untuk segera membenahi diri.

“Generasi muda bangsa ada ditangan kalian. Jika kalian masih hidup dijalanan dan masih hidup tanpa aturan mau dibawa kemana kedepannya bangsa kita,” harapnya.

Kafid, (14), salah satu pemuda asal Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, sempat merasakan kerasnya hidup di jalan sebagai anak Punk.

Dirinya mengaku jika selama ini hidup dijalan dirinya bersama rekan-rekannya merasa hidup tak menentu, tidak punya aturan serta tidak jarang dirinya mendapat pandangan buruk dari masyarakat.

Mereka berniat setelah komplet mendapat ilmu dari pondok pesantren ini akan ditularkan ke masing-masing lingkungannya di rumah.

(met)